Selasa, 21 Juni 2011

Sirah Nogo Bundet : Bicara pendidikan??, pokoknya kamu bodoh! Titik

Menyitir legenda perancis three musketeer yang terkenal dengan semboyannya one for all, all for one, dalam sistem pendidikan kita hampir sama menggunakan semboyan itu yaitu satu mata pelajaran bisa untuk semua dan semua harus bisa seluruh mata pelajaran. Hal ini semestinya mendapat perhatian bagi para pemerhati padepokan pendidikan dikarenakan tuntutan kita terhadap anak bangsa ini terlalu tinggi yaitu anak harus bisa semua ilmu. Memang gen ras manusia , yaitu gen Nabi Adam yang mampu menghafal semua ciptaan Tuhan, ada dalam tubuh kita. Namun sepertinya waktu puluhan bahkan ratusan ribu tahun sampai di waktu sekarang ini, gen itu bisa jadi sudah bermutasi sedemikian banyak ,terutama dibidang kecerdasan manusia. Wallahu alam.

Sangat disayangkan sistematika pendidikan yang kita anut saat ini masih belum memungkinkan anak-anak kita untuk dapat memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan bakatnya. Jika anak kita sangat menyukai matematika dan berprestasi di bidang itu , maka anak harus mau-tidak mau tetap mempelajari mata pelajaran lain dengan kapasitas yang sama.

Sangat sulit mengatakan bahwa seorang anak dikatakan tidak berprestasi karena mendapat nilai 5 pada mata pelajaran matematika sedangkan dalam mata pelajaran sbk (kesenian) dia mampu menggambar dengan sangat bagus. Atau sulit mengatakan bodoh kepada siswa yang memperoleh nilai 5 pada bahasa jawa sedangkan mendapat nilai 9 atau 10 pada bahasa asing. Belum lagi banyak siswa yang nilai akademik-nya rendah namun berprestasi di bidang olah raga,sains teknologi, maupun keagamaan.

Sistem seperti sekarang ini mengakibatkan siswa tidak akan pernah maksimal dalam menguasai bidang atau ilmu yang dia kuasai. Sebagai perumpamaan, seorang anak pandai dalam meng otak-atik komputer sehingga dia menguasai teknologi informasi dengan baik, kreatif dalam membuat blog,dan lain sebagainya. Tetapi disekolah mendapat angka 5 di mata pelajaran matematika sehingga sekolah ”mengancam” si anak jika nilainya masih seperti itu maka tidak akan naik. Hal ini diperparah dengan kepanikan orang tua yang langsung memvonis anaknya malas dan bodoh, sehingga perlu di les-kan ini itu. Lebih buruk lagi si anak tidak boleh lagi menggunakan komputer sebagai hukuman dan agar fokus kepada pelajaran. Wah hebat sekali budaya pendidikan di nagari ini?.

Bagaimana kita dapat memperoleh SDM yang siap pakai, profesional , ber-ilmu yang khatam? Semua akan serba setengah-setengah. Sebuah kerugian yang luar biasa besar bagi nagari ini.

Mungkin perlu adanya studi ke nagari-nagari yang tinggi tingkat human development index atau menelaah pendidikan yang menyatukan adat budaya dan modernitas. Perlu keberanian dari para pemegang kebijakan untuk mereformasi pendidikan kita menjadi lebih baik, mohon maaf tidak hanya berpikir bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan dihitung dari berapa besarnya penyerapan anggaran.

Masih percaya dan berharap bahwa pada suatu saat nanti ada ”satriyo piningit” yang benar-benar mereformasi pendidikan sedemikian rupa sehingga pendidikan benar-benar bernafaskan pendidikan (bukan berdasarkan ego sang empu / adipati/ tukang ingsinyur / paranormal ,etc) dan diperuntukkan kepada daripadanya rakyat.

Kata ”pokoknya kamu bodoh! Titik” mungkin lebih cocok untuk Ki Sirah Nogo Bundet saja. Untuk para generasi platinum mendatang tidak. Cukup kami saja yang menyerap cap bodoh dari banyak orang. Semoga keterwakilan ini cukup.

1 komentar:

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO