Minggu, 20 Februari 2011

Tirtodongso I Empu Pembuat Keris Pada Jaman Pakubuwono VII

Dituturkan oleh para sesepuh, Eyang Tirtodongso itu adalah seorang Empu yang bekerja pada Kerajaan Kartosuro pada sekitar tahun 1700. Empu itu adalah seorang yang ahli dibidang tertentu, disini keahliannya adalah dalam membuat keris, senjata atau alat perang lainnya. Beliau adalah keturunan dari Empu Supo, salah seorang Empu terkenal yang mengabdi pada Kerajaan Prabu Brawijaya V di Majapahit. Empu Supo yang masa kecilnya bernama Joko Supo,disebutkan adalah putra Tumenggung Supardya, Wedana dalem kerajaan Majapahit, yang juga adalah seorang Empu dikala itu.

Empu Supo adalah murid Ki Sunan Kalijogo dan juga Ipar dari Beliau karena Empu Supo memperistri adik Beliau yang bernama Dewi Rasawulan.Empu Supo dikenal dikalangan masyarakat Jawa sebagai pembuat / pencipta keris pusaka dari Kiyai Sunan Kalijogo yang diberi nama Kiyai Carubuk, Keris pusaka milik Empu sendiri. Kiyai Sengkelat , Keris Nogososro. Dan keris - keris ampuh lainnya yang masih dikenal sampai dewasa ini dalam masyarakat Jawa.

Ki Tirtodongso dikenal luas dan dihormati dimasyarakatnya,sehingga dikisahkan sewaktu beliau wafat, oleh masyarakat tidak diinginkan dibawa / diangkut dengan kereta jenasah, karena masyarakatnya mengharapkan memikul bersama secara estafet jenasah beliau dari tempat tinggal beliau sampai kepemakaman Kemit Klaten.

Ibu SUTOMO SASTROWILOBO sebagai kerabat warga keturunan Tirtodongso masih ingat akan pesan Eyang Tirtodongso yang isinya anak cucu keturunan Beliau agar selalu berbuat “Tansah Tumindak Utomo“ yaitu selalu berbuat utomo, jujur, sabar, bijaksana cinta kebenaran dan berbuat adil. Dalam bidang pekerjaan atau profesi “ Tansah Tumindak Utomo” itu berarti selalu melakukan pekerjaan / profesi dengan sebaik - baiknya, penuh tanggung jawab, berdedikasi dan jujur serta iklas.

Ada dua versi menurut kisah turun temurun yang disampaikan. Eyang Tirtodongso masih keturunan dari Eyang Empu Kraton Majapahit sewaktu Prabu Browijoyo V. Adapun Eyang Empu itu sendiri masih keturunan dari Eyang Djoko Dolog dan dari Prabu Browijoyo V.

Sedangkan menurut Bapak SOEKARMANTO HARDJOSOEDIRO dan dari keterangan Bapak Mr.SOEDJONO HARDJOSOEDIRO, Eyang Tirtodongso itu masih ada hubungan keturunan dari
Eyang Empu Supo dan dengan Kraton Pajang ( Sunan Amangkurat I ) yang meninggal di
Tegalarum Tegal. Beliau juga menyarankan agar Kyai Djafar yang diperkirakan masih ada
kaitannya dengan Eyang Tirtodongso, dilacak bagaimana ceriteranya dan siapa. Eyang
Tirtodongso mewarisi bakat Empu dan menjadi Empu Kraton Kartosuro, ahli dalam membuat
peralatan perang untuk Kraton Surakarta..


Karya Keris Tirtodongso

Selain tinjauan sisi esoteri, teknik beras utah kemudian berkembang dengan berbagai variasinya. Pada jaman Paku Buwana IV, Surakarta, gebagan dipelopori oleh empu Brojoguno yang kemudian sering disebut dengan keris Mangkubumen, oleh karena empu Brojoguno kemudian mendapat gelar Kanjeng Pangeran Mangkubumi (pada jaman PB V). Variasi teknik gebagan dilanjutkan secara lebih ekstrim lagi oleh empu Tirtodongso pada jaman Paku Buwana VII-IXdan empu Djojosukadgo, pada jaman Paku Buwana ke X.
Dibenarkan oleh KPH. Poerwohadikusumo, sesepuh dari Solo, keris karya empu Brojoguno jaman Paku Buwana IV; dapat dibaca dari adanya ciri gedigan pada bawah gonjonya (pamor sumberan). Jika membuat keris ber-luk ciri-ciri sogokannya kandas wojo, bawang sebungkulnya terkadang dibuat besar. Keris seperti ini dipastikan karya Brojoguno setelah bergelar Pangeran Mangkubumi atau sering disebut keris Mangkubumen.
Konon empu Tirtodongso, melanjutkan gaya keris Mangkubumen ini dengan supervisi dari Brojoguno sendiri yang usianya sudah uzur.

Walaupun rancang bangunnya hampir sama, yakni sogokan kandas wojo dan terkadang membuat bawang sebungkul besar, namun karya empu Tirtodongso tidak ada ciri gedigan (pamorsumberan) pada gonjo bawahnya, serta jarang melengkapi sekar kacangnya dengan jenggot. Keris Brojoguno/Mangkubumen PB IV-V boleh dibilang kebanyakan memakai jenggot, tidak meninggalkan ciri khas Madura-nya, serta grenengnya sering dimulai dengan cekohan dangkal.

Ringkasnya, perbedaan mendasar karya empu Tirtodongso adalah gonjo bawah tidak ada sumberan (gedigan) bahkan karya Tirtodongso sering gonjo wulung.

2 komentar:

  1. artikel yg mumpuni...bisa jd warisan anak-cucu kelak..2 jempol dari wong n'deso

    BalasHapus
  2. Sae sanget...bagaimana dg grenengnya...apakah adaperbedaan antara eyang brojo dg eyang tirto?

    BalasHapus

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO