Sabtu, 14 Maret 2009

MERANGKAI STRATEGI KAMPANYE –”Untuk Demokrasi, Untuk Rakyat”

Ketika pesta akan segera dimulai, ketika strategi dan hitungan scenario diatas kertas menjadi acuan, dan ketika tenaga pikiran serta materi berterbangan bertarung atas nama demokrasi. Rakyat berpikir dengan bimbang untuk sayakah pesta ini? Atau hanya sekadar pertarungan kecil tentang power dan kekuasaan? Di sisi lain para petarung saling menerawang para kompetitornya dengan segenap harapan dan perjuangan untuk menggapai sebuah kemenangan “ atas nama rakyat “. Tiada yang siap kalah namun dalam lubuk yang dalam mungkin juga tidak siap untuk menang. Keduanya mempunyai konsekwensi yang tak jauh berbeda. Menjadi Sang Pamomong , menjadi Kepala Rumah Rakyat sebentar atau lama, sekali lagi tak jauh berbeda. Bagai surga dan neraka petarung hanya dibatasi kelambu tipis menunggu hijab Illahi membuka memulyakan atau menghempaskan.

Satu alinea pembuka yang mencoba mengantarkan kepada banyak hal yang akan terjadi atas nama demokrasi. Begitu deras air kesegaran demokrasi mengalir membuat ketertarikan luar biasa kepada banyak kalangan untuk mencicipi kesegarannya. Namun banyak orang tersilau dengan pantulan sinar matahari di permukaannya hingga tidak tahu kedalaman air yang bisa menenggelamkan. Terjun ke dunia politik menjadikan orang bertindak sebagai petarung. Sebagian besar orang mengambil langkah pasti untuk berkarir di bidang politik dengan menjadi Wakil Rakyat , Bupati, Gubernur, bahkan Presiden tentunya dengan dasar dan landasan cita-cita yang berbeda. Yang jelas sebagai petarung memerlukan kekuatan materi spritual yang lengkap.
Ada beberapa yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum masuk keranah petarung politik , yang pertama adalah niat. Tidak akan dibahas baik dan buruknya niat seseorang menjadi pemimpin karena pada dasarnya masing-masing individu sudah paham benar mana yang baik dan mana yang buruk baik ditinjau dari agama, norma, maupun Undang-undang. Apabila niat sudah bulat maka menuju tahap kedua yaitu pengukuran. Kapasitas seseorang untuk maju menjadi Wakil Rakyat sudah dibelenggu atau diatur dengan peraturan yang jelas dan terukur seperti umur, tingkat pendidikan, parpol pendukung, dan lain sebagainya. Selain itu pengukuran terhadap dukungan rakyat, kekuatan materi, persaingan antar kompetitor dalam satu daerah pemilihan menjadi hal yang wajib dilakukan terlebih dahulu jika tidak ingin melakukan hal yang sia-sia. Tahap tiga adalah persiapan, dengan semua hal dasar yang sudah terukur diprrlukan persiapan yang matang dengan membuat grand political strategy maupun marketing strategy. Membuat orang terkenal hampir sama dengan metode orang berdagang, semakin menarik promosinya semakin tertarik para konstituen untuk memilihnya. Pembuatan strategi disini sangat perlu untuk menentukan tim yang solid serta budget atau pengeluaran biaya yang tepat sasaran. Tanpa strategi yang matang dan kedisiplinan untuk mematuhinya maka akan banyak pengeluaran yang tidak perlu dan tim yang amburadul tidak jelas tugas dan fungsinya masing-masing serta seabrek kesemrawutan yang akan datang karena tim berjalan tidak menggunakan rel strategi yang digariskan. Bukankah kereta api jika tidak diatas rel yang benar akan celaka? Demikianlah garis strategi tidak dapat dianggap remeh.

Keempat adalah pelaksanaan; pada tahap ini grand strategy yang telah dibuat dipadu dengan marketing strategy dilaksanakan dengan tahapan-tahapan, maksudnya strategi yang telah dibuat walaupun harus dilaksanakan dengan disiplin namun perlu adanya evaluasi. Mengapa demikian, kadang kala strategi yang dibuat ternyata tidak tepat diimplementasikan di lapangan sehingga tidak mencapai target yang diinginkan. Oleh karena itu dapat segera mengganti strategi disesuaikan dengan kondisi lapangan. Memaksakan strategi hanya berdasarkan ego dan kesombongan hanya akan menuai kehancuran. Optimisme yang berlebihan terhadap situasional kondisi politik yang dilihat secara sepihak akan berakibat fatal. Kecerdikan , ketelitian, kemampuan untuk mengobservasi ide baru dan berbeda akan sangat membantu dan beraura positif dalam rangka memenangkan salah satu calon.

Kelima adalah telaah hasil, fase ini tentunya mengarah kepada hasil menang atau kalah. Apabila kalah maka tentunya penghitungan kerugian materi, penyelesaian segala pernik cost yang keluar serta pembubaran tim sukses menjadi hal yang harus dihadapai. Apabila menang maka sama seperti seperti ketika kalah hanya saja ditambah perlu pemikiran tentang political rewards bagi mereka-mereka yang berjasa dalam proses kampanye. Penghargaan bagi mereka yang sudah membantu kemenangan seyogyanya sudah dituangkan sejak awal pembentukan tim sukses dalam bentuk kontrak politik atau perjanjian sehingga tidak ada balas jasa politik seumur hidup.

Lepas dari fase-fase yang ditulis diatas, focus of interest dari sebuah proses pilihan rakyat adalah figure calon itu sendiri. Pada saat ini Partai Politik sedikit kehilangan kharisma dalam menggiring masyarakat untuk berbondong-bondong memilih mereka dengan kefanatisan yang tinggi. Rakyat sudah pandai seiring dengan gencarnya pendidiikan politik yang telah mereka terima. Salah satu jalan untuk memberikan nuansa agar rakyat mau memilih calon yang diajukan partai adalah dengan mengajukan public figure yang dikenal oleh masyarakat. Figure yang dikenal akan menyedot perhatian dan dukungan sehingga peluang untuk menang menjadi sangat besar.

Kondisi figure yang terkenal menjadikan proses pemenangan menjadi lebih mudah karena tidak memerlukan kengototan yang penuh untuk mengenalkan calon kepada publik. Namun lain halnya bagi figure baru yang sedikit masyarakat mengenalnya. Dibutuhkan kekuatan pencitraan yang sangat kuat sehingga masyarakat dalam waktu tertentu dapat segera mengenaldan tertarik dengan calon yang diajukan. Sebenarnya sosialisasi bakal calon tetap harus dilakukan dengan tepat tanpa melihat keterkenalan figure di mata masyarakat. Statement ini berlaku jika melihat figure dari aspek citranya di tengah masyarakat. Walaupun terkenal namun jika citranya kurang baik tentunya tidak akan mendapatkan dukungan yang maksimal. Akhirnya factor pencitraan menjadi salah satu hal penting dalam proses kampanye secara keseluruhan.

Bagaimana mencitrakan seseorang? Tahap awal adalah menentukan mau seperti apa sang figure dicitrakan. Apakah sebagai seorang patriot, agamis, jujur, adil, atau yang lain. Dalam proses penentuan ini harus sangat berhati-hati kerena jika salah dalam pencitraan maka akan habis seluruh proses kampanye. Mencitrakan seseorang tentunya berdasarkan kelebihan yang dipunya oleh sang figure. Apabila dia agamis maka dapat ditunjukkan dengan gambar atau statemen yang teduh dan menenangkan. Maket pencitraan menjadi semacam simbol dalam usaha menarik perhatian massa.

Apabila ingat tentang istilah Bali Deso Mbangun Deso, Coblos Kumisnya, Wonosobo Idol, Sajadah panjang, kemudian pencitraan lewat media sebagai pencetus istilah hidup adalah perjuangan kemudian kepedulian terhadap petani dan pedagang pasar, itulah pencitraan yang semestinya masing-masing figure harus sudah mempersiapkannya dengan baik. Jangan sampai mengeluarkan dana yang banyak untuk poster maupun baliho namun hanya menampilkan hal-hal yang monoton sehingga “tidak berbunyi”. Bagaimana cara agar alat sosialisasi dapat menimbulkan ketertarikan pada masyarakat untuk memfigurkan calon . Disinilah peran tim kreatif sangat dibutuhkan.

Tim kreatif manjadi hal yang harus segera dipersipakan selain tim perumus strategi, tim lapangan, bahkan kalau diperlukan dibentuk tim siluman. Tim-tim ini bersinergi secara bersama-sama dengan konsep yang jelas untuk mencapai kemenangan. Tim kreatif memberikan ide dan masukan kepada tim perumus strategi dengan konsep timbal balik membuat sesuatu strategi kemenangan holistic yang diimplementasikan oleh tim lapangan. Bagaimana halnya dengan tim siluman? Tim siluman sesuai dengan namanya adalah tim yang tidak terlihat namun bergerak secara bawah tanah. Tugasnya adalah mengumpulkan data lapangan baik data keterpihakan konstituen maupun data tentang pergerakan kompetitor, selain itu juga sebagai agen sosialisasi dan pencitraan. Karena bergerak secara senyap tentunya orang-orang yang bergerak di tim siluman tidak boleh diketahui orang bahwa mereka adalah tim sukses dari pihak tertentu. Peran tim ini sangan elegan dapat digerakkan untuk melaksanakan strategi apa saja secara diam-diam dengan hasil pasti.

Kadang banyak orang meremehkan hal besar karena dianggap tidak penting maka dari itu perlu kecermatan dalam melakukan manuver dan menahan diri untuk tidak membuat strtategi atau perencanaan yang tidak membumi atau diawang-awang. Dengan kehati-hatian dan pertimbangan yang matang akan ditemui banyak konsep bagus untuk mencapai kemenangan dengan prinsip ekonomi yaitu dengan pengeluaran kecil namun memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Ingatlah satu hal bahwa apa yang akan diperjuangkan semestinya membawa sesuatu menjadi lebih baik bukan sebaliknya, baik bagi diri sendiri maupun kemaslahatan rakyat. Terpulang yang akan bertarung, Wallahualam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO