Senin, 19 Januari 2009

USAHA DASAR PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN

By Bimo S

Silakan Memakai Semua Wacana di jatiningjati.blogspot.com untuk kemaslahatan umat

1. Pendidikan dan Sosialisasi

Hal yang mendasar dalam setiap pembangunan adalah pendidikan. Tanpa adanya komitmen yang kuat untuk meningkatkan sumber daya manusia sangatlah mustahil sebuah program pembangunan akan berhasil apa lagi bidang pertanian yang memerlukan strategi dan tata cara tehnis. Sebagai ilustrasi, di negara maju kesadaran terhadap pengolahan pertanian yang baik dan agar warganya tertarik mengolah lahan untuk mengurangi pengangguran dilakukan dengan system terpadu dengan memulai mengenalkan pertanian kepada anak usia dini. Hal ini dilakukan agar generasi baru ini kelak mampu mengolah lahan dengan baik tanpa harus mendapatkan treatment khusus seperti yang harus dilakukan kepada warga masyarakat yang turun temurun menggunakan system tradisional.

Khusus untuk para petani, mereka didekatkan dengan akses internet guna menambah keilmuan mereka dan sekaligus membaca perkembangan dan isu-isu di bidang pertanian dengan cepat. Pengecekan harga pasar juga sudah menggunakan teknologi informasi ini.

Dapat ditarik sebuah benang merah bahwa terdapat korelasi kuat antara peningkatan SDM Masyarakat khususnya para petani dengan peningkatan pembangunan bidang pertanian. Alangkah ironinya apabila Kabupaten Wonosobo yang mempunyai lahan dan air yang cukup melimpah ternyata terdapat banyak pengangguran dimana mereka semestinya bisa diserap di bidang pertanian.

A. Pendidikan Pertanian

Masyarakat yang berkecimpung di bidang pertanian kebanyakan mempunya basic pendidikan formal yang rendah. Kemampuan untuk tanggap terhadap hal yang baru terkendala oleh stigma turun temurun dan telah merekat rapat dikalangan masyarakat pedesaan. Cara bercocok tanam tradisional masih banyak ditemui pada era sekarang. Sebenarnya modernisasi bidang pertanian perlu, akan tetapi nilai atau cost yang harus dibayar sedemikian besar. Selain itu akan percuma jika pengolahan pertanian dengan alat-alat modern tidak didukung oleh pengetahuan petani yang meningkat dan memadai.

Pendidikan ataupun sosialisasi progran maupun cara bertani yang baik sudah sejak lama menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian namun seiring dengan jalannya waktu yang membawa dinamika sosial masyarakat yang terus berubah dan standar tingkat tata usaha pertanian yang terus meningkat, maka diperlukan kotinyuitas pembelajaran baik SDM Penyuluh Lapangan Pertanian maupun masyarakat petani sebagai target.

A.1. Penyuluhan

A.1.1. Penyuluhan Klasik ( Kedinasan )

Salah satu usaha pendidikan masyarakat petani klasik adalah dengan penyuluhan resmi. Beberapa cara dipergunakan seperti penyuluhan pada rapat-rapat resmi ( rapat desa khusus masalah pertanian, rapat desa, rapat RT, dll ) atau dengan pola jemput bola yaitu mendatangi perkumpulan kelompok-kelompok tani. Adalagi yang lebih intens mengadakan penyuluhan per individu petani. Penyuluh Lapangan Pertanian dituntun untuk inovatif dalam pendekatan dengan masyarakat. Pola penyuluhan seperti ini telah menjadi standar dalam pola penyuluhan birokrasi. Namun hal yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan adalah adalah intensitas, kreatifitas, dan etos kerja.

A.1.2. Agen Sosialisasi

Agen sosialisasi dalam birokrasi saat ini masih diartikan secara sempit. Tugas ini biasa dibebankan kepada para penyuluh lapangan saja. Namun sebenarnya agen sosialisasi bisa siapa saja yang bisa diajak bekerja sama dalam ikut memberikan pendidikan pertanian kepada masyarakat. Agen sosialisasi selain PPL bisa saja Pegawai Kecamatan, Perangkat Desa, Ulama, Tokoh Masyarakat, LSM, bahkan bisa petani itu sendiri. Tugas dari Dinas Pertanian untuk terus berusaha mencari partner agar aura sentra pertanian tetap tinggi dengan merangkul semua pihak baik dari dalam wilayah sasaran maupun eksternal dengan behavioral approach (pendekatan perilaku / budaya masyarakat) agar jalannya pendidikan /sosialisasi bidang pertanian tidak selalu berkesan menggurui. Perubahan perilaku masyarkat saat ini cukup ekstrim dengan ditandai dengan masuknya era baru (era reformasi) dimana kepatuhan rakyat kepada pemerintah menurun dengan signifikan. PPL sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Daerah diharapkan di lapangan bisa merekrut atau merengkuh orang disekitar wilayah kerjanya dengan cara-cara atau strategi yang tepat dan halus agar bisa membantu sosialisasi program pertanian yang sudah ditetapkan.

A.2. Media Kepustakaan

Di semua negara maju, peningkatan pengetahuan petani terhadap tata cara pengolahan pertanian modern dilakukan dengan media buku tentang pertanian maupun teknologi tepat guna. Untuk saat ini bahkan petani mencari solusi maupun informasi melaluii teknologi informasi. Untuk Kabupaten Wonosobo penggunaan teknologi informasi masih dalam proses pengembangan, sedangkan perpustakaan mulai berkembang di desa-desa. Untuk tugas dari Dinas Pertanian harus rajin membuat atau mencukupi literatur-literatur baik berbentuk buku, liflet, makalah, selebaran yang berisi tentang tata cara bertani yang baik per bidang seperti bertanam padi, bertanam salak, pengelolaan irigasi, dan sebagainya , yang benar-benar disesuaikan dengan kondisi wilayah di kabupaten Wonosobo. Acuan pembutan literatur selain mengacu kepada keilmuan modern juga harus melihat kondisi lapangan hingga ditemukan formula tepat agar literatur yang dibuat benar-benar bisa diterapkan secara baik di kalangan petani. Tidak sekedar asal jadi. Oleh karena itu budaya menulis di kalangan Penyuluh Lapangan Pertanian maupun staf Dinas Pertanian perlu lebih ditingkatkan guna lancarnya transfer of knowledge. Selain itu mulai dicermati dalam mengajukan anggaran agar pembiayaan literatur untuk petani ini mendapat prioritas.

A.3. Pendidikan Pertanian Sejak Dini

Kabupaten Wonosobo merupakan Kabupaten Agraris dimana sebagaian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah bertani. Dengan demikian maka peluang angkatan kerja yang ada sangat besar kecenderungan untuk berprofesi sebagai petani. Sudah semestinya perlu adanya pendidikan sejak dini mulai dari TK hingga SMA tentang pengenalan dan pengolahan pertanian yang baik. Apabila pengenalan terhadap bidang pertanian dilakukan sejak dini diharapkan kecintaan dan juga ilmu yang diperoleh mem- braind storming anak untuk bisa tetap menempatkan bidang pertanian sebagai salah satu tujuan masa depannya atau setidaknya menumbuhkan minat untuk peduli kepada lingkungan hidup. Metode pendidikan ini dimasukkan pada mata pelajaran bermuatan lokal atau lewat ekstra kulikuler. Dinas Pertanian bisa melakukan pendekatan kepada instansi terkait atau bisa membuat program sendiri dengan bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Sebagai contoh Program ini dibagi menjadi beberapa sub level dengan contoh perincian sebagai berikut :

No.

Tingkatan Pendidikan

Kegiatan


1.



2.







3.



4.


Play Grup / Taman Kanak-Kanak



Sekolah Dasar







Sekolah Menengah Pertama



Sekolah Menengah Atas

- Pengenalan Pertanian dengan study luar di perkebunan, sawah, atau taman bunga

- Mengenalkan Anak-anak kepada beberapa jenis tanaman pertanian seperti pohon padi, jagung

- Melakukan kegiatan bercerita (story telling) tentang cerita-cerita yang berhubungan dengan pertanian atau tumbuhan

- praktek sederhana menanam di halaman sekolah atau media laboratorium praktek

- diajarkan baik ekskul atau pelajaran ketrampilan membuat hasil pertanian menjadi lebih berguna ( pembuatan keripik kentang,dll)

- Tour di beberapa sentra pertanian dan pabrik / usaha kecil pengolahan hasil pertanian

Praktek langsung dilapangan dengan sistem magang

B. Peningkatan SDM Penyuluh Lapangan Pertanian

Faktor yang tidak kalah penting adalah menyiapkan SDM Dinas Pertanian khususnya Penyuluh Lapangan Pertanian dengan memberikan banyak pelatihan dan pengaksesan informasi seluas-luasnya. Perlu ditekankan bahwa Penyuluh Lapangan Pertanian adalah ujung tombak Pemerintah Daerah dalam mendukung pembangunan di bidang pertanian. Oleh karena kebutuhan akan keilmuan di bidangnya harus menjadi salah satu prioritas. Anggaran untuk pelatihan perlu diperjuangkan dengan maksimal. Kalaupun anggaran belum ada, jajaran pimpinan Dinas Pertanian harus berusaha secara kreatif memberikan segala keperluan keilmuan kepada Penyuluh Lapangan Pertanian tanpa reserve baik dengan berusaha menyediakan akses internet ataupun mencarikan / membuat literatur-literatur yang dibutuhkan. Perlu adanya perpustakaan khusus di Dinas Pertanian untuk memenuhi kebutuhan informasi para staf dan PPL-nya.

C. Pendirian Laboratorium Pertanian / Botany Crissis Center

Pendirian sebuah laboratorium pertanian sebenarnya sudah mulai perlu dirintis karena menjemuknya masalah tehnis yang dihadapi oleh para petani kita. Laboratorium ini bisa dianggap sebagai botany crissis center dimana didalamnya terdapat kegiatan penelitian dan tempat bertanya secara tehnis detail lengkap dengan jawaban ilmiahnya. Kegiatan lain yang dilakukan adalah menemukan masalah-masalah yang timbul di suatu wilayah yang diakibatkan oleh banyak faktor dan segera mencari solusinya sehingga penanganan benar-benar sesuai dengan pokok permasalahannya. Namun kendala utama dari laboratorium ini adalah pendanaan karena dibutuhkan penyediaan alat dan operasional yang cukup tinggi.

D. Pendirian Wahana Taman Pertanian

Pendirian Wahana Taman Pertanian sebenarnya merupakan maket atau miniatur dari kondisi pertanian (picture of botany) yang dimaksudkan untuk menjadi wahana belajar dan wisata bagi masyarakat baik dari anak-anak maupun dewasa agar aura pertanian di Kabupaten Wonosobo ini semakin terasa kental. Pola education of science modern saat ini memasuki trend pembuatan taman-taman yang bisa digunakan belajar tanpa menggurui. Dalam hal ini masyarakat semakin dibawa ke aura agraris agar bisa tertarik kepada bidang pertanian yang semestinya bisa mendapatkan hasil yang besar untuk mengurangi pengangguran.

2. Tahap Awal Pembangunan Bidang Agrobisnis

Agrobisnis secara garis besar bisa dikatakan sebagai kegiatan di bidang pertanian maupun perkebunan (media tanah) dari mulai menanam, panen, sampai dengan pemasaran, dimana masing-masing kegiatan tersebut memerlukan tahapan-tahapan dan strategi yang tepat. Masalah pembngunan bidang agrobisnis sebenarnya sangat kompleks dan sangat luas cakupannya namun ada beberapa hal standar yang perlu digaris bawahi dan dimaxsimalkan untuk menjadi suatu pola pembangunan agrobisnis yang dapat dipergunakan dalam setiap kegiatan pertanian baik dari persiapan data, tehnis pertanian, maupun strategi ekonomi.

A. Realitas Data Base Pertanian

Data Base bidang pertanian semestinya menjadi perhatian utama karena setiap sentra program maupun Rencana kerja akan mengacu kepada aspek terukur yang terekam di dalam data base pertanian. Ketidak akuratan angka-angka akan berakibat fatal sehingga aspek pembangunan pertanian menjadi salah sasaran dan petani akan semakin terpinggirkan. Data base mencakup segala hal yang berhubungan dengan pertanian seperti yang telah menjadi acuan kerja Dinas Pertanian ditambah dengan data keluhan maupun kesulitan yang dihadapi petani disetiap wilayah Kabupaten Wonosobo. Dengan data-data yang tepat maka proses perencanaan dan evaluasi dapat terukur dengan matang.

Dengan data base yang tepat dan realitas dapat ditentukan sentra-sentra pertanian .Penentuan sentra pertanian menjadi cukup penting karena apabila suatu wilayah sudah menjadi sentra terhadap produk tertentu maka akan mempermudah pembinaan kedepan. Bisa lebih mudah diberikan inovasi dalam hal pengolahan dan pemasaran serta mempermudah dalam promosi.

B. Penentuan Target

Penentuan target kerja dari Dinas Pertanian harus mengacu kepada data base yang telah ada dan melihat dengan cermat persoalan-persoalan di kalangan masyarakat petani. Masukan dari para Penyuluh Lapangan Pertanian merupakan masukan yang harus diperhatikan karena merupakan manifesto kondisi riil di lapangan. Keluhan dan kesulitan yang dihadapi oleh para petani semestinya diperjuangkan oleh para PPL di wilayah tersebut dan menjadi dasar utama pembuatan target kerja. Bottom up planning harus menjadi hal yang wajib hingga program-program dan target yang dibuat tidak berkesan mubazir atau bernuansa proyek.

C. Tindak Nyata Pengamanan Sektor Pertanian

Sektor pertanian merupakan sektor yang cukup rumit mencakup faktor-faktor alam, tehnis, non tehnis, dan sosial. Banyak hal yang harus menjadi perhatian agar hasil pertanian bisa terus terjaga dan meningkat. Dinas Pertanian harus terus memantau sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya terhadap faktor tehnis seperti kesediaan pupuk, pestisida, obat-obat pertanian, pendampingan, penyuluhan dan lain sebagainya dengan profesional dan maximal.

Selain itu tugas pendampingan bagi petani semestinya dilakukan dengan serius sehingga langkah-langkah pengelolaan pertanian yang benar akan terus dapat dipantau dan dijaga sedemikian rupa sehingga bisa mencapai target yang diharapkan.

D. Pemasaran

Pemasaran merupakan salah satu faktor penting yang merupakan kendala dalam pembangunan bidang pertanian di Kabupaten Wonosobo. Dalam beberapa waktu terakhir nilai jual beberapa produk pertanian sebagai contoh tembakau, kentang , dan cabai mengalami penurunan dan fluktuasi harga yang tidak stabil. Selain itu produk juga banyak tertolak dibeberapa pasar sasaran diakibatkan penanganan pasca panen yang tidak profesional, tidak lulus uji standar pestisida, dan lain sebagainya. Dinas Pertanian dalam hal ini harus mempunyai tim khusus yang menangani masalah pasar dengan mengadakan survei dan loby kepada pihak-pihak buyer untuk meyakinkan pasar terhadap keunggulan kualitas produk pertanian Kabupaten Wonosobo tentunya dengan berkoordinasi dengan PPL untuk segera memperbaiki kwalitas produk pertanian petani.

Tim yang dibentuk ini merupakan tim intern Dinas Pertanian yang nantinya bisa berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait dalam usaha membuka pasar. Kemampuan tim yang dibentuk tentunya harus benar-benar profesional hingga tim yang dibentuk tidak sekedar formalitas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO