Kamis, 15 Januari 2009

PENJAGAAN MORALITAS PELAJAR

oleh : Bimo.S


Untuk menjaga agar para pelajar dapat belajar dengan baik dengan hasil maksimal maka diperlukan suatu usaha yang konkret dan berkesinambungan. Moralitas pelajar dewasa ini seiring berkembangnya arus informasi dan teknologi semakin lama semakin menuju ke arah yang memprihatinkan. Unsur negatif lebih cepat diterima dari pada nilai positifnya. Sex bebas, tawuran, penyalahgunaan napsa,pola hidup borju di kalangan pelajar, sekarang menjadi hal yang cukup memprihatinkan. Oleh karena itu perlu adanya suatu gerakan atau tindakan yang bisa menekan semua hal yang bisa merusak moral dan mental remaja kita seminimal mungkin.

A. Gerakan Disiplin

Gerakan disiplin ini difokuskan untuk memantau para pelajar yang membolos atau pergi pada waktu jam-jam sekolah. Biasanya mereka barada di tempat keramaian atau di tempat hiburan. Pelajar yang membolos selain merugikan dirinya sendiri juga berpotensi untuk menimbulkan keresahan di masyarakat karena biasanya pelajar yang suko membolos mempunyai tingkat kenakalan yang tinggi dan justru sering medekati kriminal seperti pengompasan pelajar yang lebih kecil atau dibawahnya sampai dengan tawuran dan pesta miras. Sex bebas di kalangan pelajar juga muncul dari fenomena bolos sekolah dimana orang tua sering kali tidak di rumah karena harus bekerja dimanfaatkan untuk berbuat negatif. Fenomena bolos sekolah ini sebenarnya tidak bisa dianggap remeh karena dari sinilah banyak hal tentang kerusakan moral pelajar dimulai. Oleh karena itu perlu tindakan tegas dari para aparat Satpol PP untuk sering melakukan operasi agar menjadi sebuah shock therapy yang mempunyai efek jera bagi para pembolos dan juga ketegasan dari pihak sekolah untuk mencegah siswanya bolos sekolah. Kalaupun siswa harus keluar sekolah pada jam sekolah haruslah seijin sekolah dengan menggunakan surat ijin

B. Pembatasan Penggunaan HP

Handphone merupakan hasil teknologi yang menjadi booming dikalangan pelajar. Pada kenyataan akhirnya mendidik pelajar untuk bersifat konsumtif. Masing-masing siswa banyak yang berlomba untuk bisa mendapatkan HP yang berkelas hanya untuk mejeng dan trend. Tentunya hal ini akan membebani orang tua masing-masing belum lagi jika berbicara masalah pulsa. Selain itu kecenderungan penyalahgunaan HP semakin meningkat seiring waktu. Hp tidak saja menjadi alat komunikasi namun juga alat untuk berbuat curang dalam ujian, nge-date, dan akhirnya kearah pornografi yang semestinya belum bisa dikonsumsi pelajar. Parahnya lagi dewasa ini semakin sering terjadi para pelajar yang bahkan menjadi aktor dan aktris pornografi yang direkam lewat HP.

Untuk menekan penyalahgunaan HP ini perlu suatu tindakan yang bijaksana sehingga secara fungsi tidak ada yang dirugikan karena pelajar ada juga yang memang dibawakan HP untuk bisa dipantau oleh orang tuanya. Cara yang paling lunak adalah secara rutin pihak sekolah mengadakan razia isi HP hingga material yang tidak layak bisa langsung dibuang dan siswa diberi peringatan. Cara yang lebih keras bisa dengan penonaktifan HP pada waktu jam pelajaran, memberikan peraturan standar HP tidak boleh ber kamera baik foto maupun rekam, sampai dengan pelarangan total membawa HP. Semua itu tergantung dari kebijaksanaan sekolah

C. Sosialisasi Kepada Pengelola Hiburan

Pihak Dinas Pendidikan dibantu oleh Kesbanglinmas dan Satpol PP serta berkoordinasi dengan Kepolisian harus terus mensosialisasikan kepada para pengelola hiburan seperti Play Station untuk tidak menerima konsumen Pelajar pada jam sekolah. Kebanyakan pelajar yang bolos sekolah ”bersembunyi” di sana. Setelah sosialisasi dirasa cukup mungkin dengan penempelan stiker atau poster tentang larangan pelajar bermain di waktu jam sekolah maka ditingkatkan menjadi taraf pemantauan. Jika dari pihak pengelola masih membiarkan para pelajar bolos bermain di situ maka dapat diberi peringatan ,jika peringatan tidak diindahkan maka bisa dilakukan penyegelan sementara atau bahkan penutupan paksa disesuaikan dengan aturan yang berlaku.

D. Penertiban Emblem Sekolah

Emblem sekolah seperti hal sepele hingga banyak siswa yang tidak memakai dan pihak sekolah juga sangat fleksibel dalam hal ini. Memang dibeberapa kota besar emblem diminta dilepas dikarenakan banyaknya kasus tawuran antar sekolah yang merebak dan siswa yang tidak terlibat dari sekolah lawan kadang tetap menjadi sasaran. Namun di Wonosobo di mana tawuran masih belum menonjol, emblem menjadi cukup penting karena mencakup identitas asal sekolah pelajar. Dari emblem inilah masyarakat dapat ikut serta memantau para pelajar di luar jam sekolah sehingga bila ada siswa yang berperilaku negatif masyarakat dapat segera menginformasikan kepada sekolah yang bersangkutan.

E. Operasi Terpadu Napsa

Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Alkohol di kalangan pelajar dirasa masih cukup tinggi. Perlu adanya pengawasan yang ketat terutama para guru disekolah untuk terus semaksimal mungkin meminimalisir beredarnya barang haram itu dilingkungan sekolah. Razia para guru semestinya sering dilakukan secara kontinyu dan pengawasan terhadap sudut-sudut sekolah juga perlu ditambah terutama kamar mandi dimana siswa sering kali merokok di daerah itu. Sosialisasi tentang bahaya narkoba juga semestinya sering dilakukan oleh pihak sekolah dengan bisa berkoordinasi dengan BNK maupun instansi terkait. Wadah organisasi anti narkoba di sekolah masing harus terus ditingkatkan untuk terus mensosialisasikan bahaya narkoba kepada rekan-rekannya.

Operasi gabungan juga semestinya sering dilakukan baik di sekolah maupun ditempat nongkrong anak muda untuk dapat diminimalisir peredarannya. Selain itu minuman keras juga sering di razia hingga bisa dikendalikan. Tanpa usaha yang keras dan terpadu penghapusan bahaya Narkoba dan penyalahgunaan minuman keras dikalangan pelajar akan sulit dilakukan.

F. Pengembangan Kurikulum

Didalam kurikulum baku terdapat pendidikan agama dan pendidikan budi pekerti yang telah dilaksanakan di setiap sekolah. Namun banyak yang mempertanyakan keefektifannya.Pendidikan agama hanya diberi waktu jam yang sangat sedikit itupun menjadi momok yang menakutkan bagi beberapa siswa dikarenakan harus menghapal surat-surat dari kitab suci maupun menghapal pengertian dan aturan agama yang diberikan oleh guru. Kondisi ini sebenarnya menjadi esensi dari pendidikan agama yang semestinya bisa membina akhlak dan moralitas siswa berkurang bahkan hilang. Pola dasar pendidikan nasional yang telah digariskan mempersulit pembinaan moralitas siswa karena yang menjadi sasaran cenderung mengarah kepada nilai bukan terapan dengan adanya kebijakan Ujian Akhir Nasional. Oleh karena itu jika merubah Sisdiknas tidak memungkinkan maka perlu suatu pola khusus yang tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku yang bisa diterapkan di daerah.

Perubahan pola mengajar pada pendidikan agama dan budi perkerti di sekolah semestinya mulai dicoba dengan orientasi tujuan yang seimbang antara teori dan perilaku. Bagaimana caranya secara teori siswa bisa mengikuti dengan baik namun bisa juga menerapkan ilmu yang didapat itu dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan guru dalam mengajar point-point pendidikan ini juga harus bersifat membimbing bukan sekedar memberi materi. Dengan kondisi kurikulum yang padat maka perlu adanya kontinyuitas guru pengampu pendidikan agama dan budi pekerti untuk terus mendekati siswa dan memberikan bimbingan setiap saat pada jam sekolah. Jadi tidak hanya dalam jam mengajar saja.

Kemudian dewasa ini di beberapa daerah sudah dikembangkan pendidikan anti korupsi di kalangan siswa dengan prinsip sistem yang berbeda-beda. Hal ini sebenarnya sangat baik untuk bisa diterapkan di sekolah-sekolah Kabupaten Wonosobo. Siswa didik sejak dini untuk berlaku jujur dan tidak korup dengan harapan bisa tertanam di hati dan pikiran siswa.

G.Revitalisasi Bimbingan Konseling

Bimbingan Konseling atau sering disebut sebagai BP dahulu sering kali menjadi momok atau bahkan sesuatu yang dibenci oleh siswa karena lebih berfungsi sebagai pengadilan siswa dari pada membimbing siswa. Jika ada siswa yang bermasalah melanggar aturan sekolah maka langsung dipanggil guru BP untuk dilakukan pembinaan yang cenderung ke arah penghakiman. Paradigma itu semestinya perlu sedikit diubah yaitu bahwa Bimbingan Konseling tidak hanya mengurusi anak yang bermasalah melanggar aturan sekolah namun juga harus bisa berfungsi sebagai teman bagi siswa dan pelajar hingga bisa menjadi tempat curhat . Bimbingan konseling semestinya bisa memberikan rasa nyaman kepada siswa dengan dapat memberikan banyak solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi siswa baik stres masalah pelajaran, keluarga,pertemanan dan lain sebagainya. Perubahan paradigma ini diharapkan kenakalan maupun stress dikalangan siswa bisa semakin dieliminir.

1 komentar:

  1. ok. PAK ARTIKEL BAGUS. KERUSAKAN BANGSA INI TIDAK LAIN TIDAK BUKAN ADALAH BERAWAL DARI GENERASI MUDA YANG RUSAK MORALNYA

    BalasHapus

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO