Kamis, 15 Januari 2009

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (Play Grup dan TK)

Pendidikan anak usia dini saat ini memang menjadi trend pendidikan baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini dikarenakan munculnya sebuah teori baru yang menyatakan bahwa baik buruknya SDM seseorang dipengaruhi besar oleh pendidikan yang diterimanya sejak kecil. Anak usia dini masih bisa diberi doktrinasi halus yang nantinya bisa tertanam sampai dewasa. Selain itu juga dengan menfasilitasi anak bermain dan belajar akan memberikan banyak latihan edukasi, motorik, maupuin psikologis.

Dalam usaha untuk menciptakan SDM yang baik dimasa yang akan datang mutlak diperlukan suatu usaha untuk memberikan wahana kepada anak usia dini agar secara awal sudah terbina baik akhlak, perilaku, maupun kecerdasannya. Di negara maju pendidikan usia dini menjadi prioritas. Mereka sadar sekali bahwa mental yang terbina sejak kecil akan berpengaruh bersar pada usia dewasa nanti. Kemandirian , sikap kritis, keingintahuan yang tinggi, keberanian, kejujuran, dan lain sebagainya, dibentuk sedemikian rupa dengan sistem pengajaran yang disesuaikan dengan umur anak.

Di Kabupaten Wonosobo sudah mulai tumbuh berkembang Lembaga Pendidikan untuk anak usia dini yang sudah bisa dikatakan maju baik dilihat dari segi sistem pengajaran maupun sarana parasarana. Namun memang harus diakui perbandingan antara jumlah Taman Kanak-kanak Lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini ) dengan jumlah anak di Kabupaten Wonosobo jauh dari ideal. Perlu langkah-langkah yang tepat untuk memacu pendidikan anak usia dini ini baik dari segi lembaga pendidikan maupun peran aktif pemerintah dalam menfasilitasi pendidian anak-anak.

A. Menfasilitasi Berdirinya Lembaga Pendidikan Usia Dini

Untuk membantu program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa, maka pendirian wahana pendidikan untuk anak oleh pihak non pemerintah maupun masyarakat sudah semestinya didukung bahkan didorong agar pendidikan anak ini bisa dilaksanakan secara mandiri dengan sedikit campur tangan Pemkab.

a.1. Profit

Dalam menyikapi tumbuh kembangnya lembaga pendidikan anak yang semi profit, tentunya dibutuhkan suatu proses sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Namun dalam hal ini karena menilik betapa pentingnya pendidikan untuk anak maka proses perijinan tersebut dipermudah untuk menarik investor masuk dan mendirikan prasarana pendidikan di Kabupaten Wonosobo. Apabila memang diketemukan ketidaksamaan standar mutu maka dapat dipergunakan sistem akreditasi. Pendidikan anak memang lebih lunak dibanding bentuk pendidikan sekelas Sekolah Dasar ke atas karena kurikulum yang dipakai adalah kurikulum yang menganut belajar sambil bermain. Tentunya pembinaan dan pengawasan instansi terkait dibutuhkan sekali agar nilai profit yang ada dalam lembaga pendidikan ini tidak mengorbankan kepentingan anak-anak.

a.2. Non Profit

Wahana pendidikan anak non profit ini perlu disosialisasikan lebih lanjut karena dengan adanya wahana ini maka pada setiap lingkungan masyarakat seperti RT, RW, Dukuh, maupun Desa ada wahana untuk bermain dan belajar bagi anak-anak walaupun dengan media atau sarana prasarana yang sederhana. Yang dipentingkan adalah adanya kepedulian para orang tua untuk memberikan hal positif dilingkungannya agar anak usia dini bisa belajar bersosialisasi dan bermain dengan terawasi.

Bentuk dari wahana pendidikan anak yang paling sederhana sebagai contoh adalah menata kandang hewan ternak yang biasa ada di sekitar lingkungan sekitar dan kemudian anak-anak dibawa kesana dengan diberi kesempatan untuk memegang atau memberi makan hewan-hewan yang ada disana. Hal ini bertujuan pengenalan terhadap lingkungan, merangsang keingintahunan anak walaupun tetap dalam konsep bermain. Contoh lain bisa diusahakan pemberian lahan publik bisa berupa area yang masih banyak pohon, dekat dengan sungai kecil, atau juga bisa taman atau lapangan olah raga, apapun yang sekiranya dapat menambah wawasan anak dan bernilai mendidik. Faktor yang terpenting disini adalah kepedulian warga untuk ikut serta membantu anak-anaknya bermain sambil belajar dalam setiap pembukaan wahana pendidikan anak.

B. Sosialisasi Pendidikan Untuk Anak

Di kota besar pendidikan untuk anak usia dini sudah menjadi hal yang lumrah seperti bahwa pendidikan ini adalah pendidikan formal saja. Kemudahan masyarakat perkotaan dalam mendapatkan informasi baik dari media cetak atau media yang lain sangat mudah dan cepat. Apalagi didukung oleh trend PAUD ini yang berkembang pesat hingga seperti menjadi sesuatu yang wajib. Pengertian mendasar mengapa anak usia dini perlu mendapat perhatian dalam pendidikannya sudah tersosialisasikan dengan baik walupun tidak banyak campur tangan pemerintah setempat dalam hal ini.

Jika dibanding dengan Kabupaten Wonosobo yang memiliki wilayah yang luas dan terdiri dari desa-desa ditambah dengan SDM masyarakat yang masih dirasa kurang, pengertian tentang pentingnya anak mendapat pendidikan terpadu sejak dini belum terpahami dengan baik bahkan cenderung menjadi suatu bahasan yang ”mewah”. Hal ini dimaklumi karena rata-rata penduduk Wonosobo adalah petani yang kehidupannya masih belum begitu baik. Ditambah pula pola pikir yang masih sederhana dimana pola tradisional dalam mendidik anak sampai sekarang masik melekat ditengah masyarakat.

Pola tradisional seperti didikan sopan santun, unggah-ungguh, nilai budaya, tentunya patut diteruskan dan dipertahankan, namun dalam era ini perlu usaha yang lebih keras lagi agar anak dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri, cerdas, dan berakhlak.

Usaha sosialisasi pendidikan anak usia dini memang perlu digalakkan lewat instansi terkait agar masyarakat paham tenteng kegunaan dan pentingya program tersebut. Pengertian pendidikan anak usia dini semestinya tidak diartikan sempit bahwa anak wajib sekolah di Playgrup atau TK namun bagaimana keluarga dan masyarakat lingkungan diberi keilmuan tentang cara mendidik anak yang baik untuk nantinya diterapkan baik di keluarga ataupun di lingkungan masyarakat. Kalaupun ada yang tertarik untuk mengikuti Program terpadu seperti Play Grup dan TK itu juga lebih baik.

Sosialisasi dimanapun menjadi faktor penting berhasilnya sebuah program. Maka dari itu instansi terkait semestinya memberikan perhatian lebih pada faktor ini agar program-program yang dicanangkan dapat berhasil secara maksimal. Tanpa sosialisasi yang kontinyu dan berkualitas maka proyek maupun program hanya akan mencapai target selesai bukan target berhasil.

C. Pengembangan TPQ dan Pondok Pesantren

TPQ dan Ponpes saat ini sudah banyak yang menerapkan sistem pendidikan kepada anak-anak seperti iqro' dan lain sebagainya.Ada beberapa yang sudah mengajarkan anak untuk ikut berdakwah dengan program dai kecil.Pengembangan dari sistem pengajaran ini walaupun masih dalam koridor keagamaan namun sedikit banyak sudah mampu meningkatkan tingkat kemandirian dan tingkat aktualisasi anak. Anak dididik tingkat kecerdasan melalui pendidikan agama walaupun perlu kehati-hatian agar anak tidak terbebani.

Wisata ritual juga dapat dikenalkan kepada anak dengan beberapa acara seperti beribadah di masjid atau yang paling sederhana mengajak anak pergi ke tempat alam terbuka dengan memberikan pengertian-pengertian bahwa semua itu adalah ciptaan Tuhan. Model ini bisa memberikan pandangan dan doktrinasi kepada anak terhadap moralitas yang berbasic kepada pola keagamaan.

Pendidikan moralitas juga merupakan dasar kuat pendidikan anak yang penting. Dengan dasar yang baik sejak kecil diharapkan pada masa dewasa nanti terbentuk seorang individu yang berilmu dan berakhlak.

Pada tahap berikutnya sebuah TPQ dapat pula diberi mainan anak indoor maupun outdoor hingga menarik anak untuk rajin datang mengaji sekaligus menambah nilai lebih wahana pendidikan ini menjadi pusat keilmuan bagi anak usia dini disekitar wilayahnya.Pembangunan perpustakaan untuk anak dan penambahan wahana belajar multimedia seperti dari VCD pembelajaran agama sangat baik jika bisa diwujudkan.

Untuk mempermudah sosialisasi maka dapat dipilih TPQ yang sudah maju dan berhasil yang sekiranya telah mengikuti trend perkembangan jaman namun tetap selaras dengan fungsinya untuk menjadi TPQ percontohan yang terus dipromosikan oleh instansi terkait agar bisa mempengaruhi TPQ yang lain untuk berinovasi.

Pemberdayaan masyarakat dalam usaha mengembangkan pendidikan anak memang semestinya dilaksanakan dalam bentuk mendorong partisipasi masyarakat bukan berdasarkan proyek bantuan utuh karena nilai TPQ percontohan dalam memberikan motivasi bagi yang lain akan turun. Muncul ungkapan bahwa hal itu biasa bisa maju kalau dibantu pemerintah / ada uangnya. Oleh karena itu stimulan dari Pemkab dalam bantuan untuk program seyogyanya diberikan kepada TPQ yang mandiri dan berprestasi yang penentuannya bisa lewat lomba. Stimulan bisa diberikan langsung jika dana tersebut memang untuk opersional TPQ yang diperuntukkan untuk semua TPQ di Wonosobo.

Inovasi dalam segala hal yang psitif dalam lembaga pendidikan agama perlu dilakukan agar anak dan para remaja yang nota benenya hidup dijaman modern tetap tertarik untuk intens mendatangi dan mengikuti ajaran keagamaan.

D. Pembangunan Wahana Bermain Anak

Berbicara tentang pengembangan pendidikan anak usia dini ada hal yang menarik di Kabupaten Wonosobo dimana ruang publik yang bisa dipergunakan keluarga untuk bersama bermain dan bersantai dirasa sangat kurang. Memang tempat untuk wisata di Wonosobo sedemikian banyak, namun yang dimaksud di sini adalah ruang publik atau space untuk umum yang benar-benar aman untuk rekreasi murah keluarga. Biasanya taman ini terletak ditengah kota dengan diberi mainan outdoor .

Ruang Publik memang bukan merupakan suatu yang vital namun menjadi faktor pendukung dan memberikan bukti keseriusan Pemerintah dalam memberikan wahana belajar kepada anak-anak. Konsep tentang pembangunan wahana belajar baik tentang wahana pertanian, peternakan, science, kehutanan, dan lain sebagainya seyogyanya mulai dipikirkan secara serius untuk kemudian direalisasikan demi terwujudnya para penerus yang cerdas dan bermutu.

E. Peninjauan Pola Kurikulum

Pada masa pendidikan usia dini anak mempunyai batasan-batasan dimana kemampuan tumbuh kembang anak baik fisik, psikologis,otak, dan motorik memiliki karakteristik yang harus benar-benar diperhatikan. Pada masa ini anak difokuskan untuk bermain dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan tingkat umurnya. Belajar dalam hal ini disinergikan dengan kondisi anak dengan cara bermain, bernyanyi, jalan-jalan dan lain sebagainya. Namun dewasa ini ada kecenderungan bahwa pendidikan anak usia dini seperti memberikan materi yang memaksakan anak agar menguasai suatu materi dimana sebenarnya belum waktunya diberikan.

Pelajaran membaca dan menulis saat ini mulai diberikan kepada anak usia Taman Kanak-kanak bahkan penghitungan matematika yang semestinya untuk murid Sekolah Dasar juga sudah mulai diberikan. Sebenarnya hal ini positif apabila bertujuan untuk mengenalkan saja dan sebagai dasar untuk di sekolah dasar nanti. Akan tetapi pada prakteknya banyak yang menyimpang menjadi penyiapan anak agar bisa lulus test masuk SD yang biasanya ”mewajibkan” anak TK untuk mengenal huruf dan membaca. Dikhawatirkan jka anak terlalu dini dibebani oleh kurikulum pendidikan formal anak akan stres ataupun nantinya pada usia berikutnya merasakan kejenuhan dalam bersekolah sehingga mempengaruhi prestasinya.

Pemberian materi sebelum waktunya ini dipicu dari permasalahan kompleks SD favorit yang hanya bisa menerima siswa terbatas sehingga dilakukan seleksi dan seleksi ini cenderung mengarah kepada baca dan tulis. Dengan kondisi demikian Lembaga pendidikan usia dini berpacu agar siswa didiknya dapat diterima di SD yang diinginkan dengan meberikan pelajaran atau les baca tulis kepada anak.

Kondisi ini semestinya harus dilakukan solusi yang baik adil tanpa merugikan semua pihak. Anak jika terlalu didoktrin untuk pintar dalam hal kurikulum formal ada kecenderungan untuk bosan dan juga tidak terlatih untuk life skill-nya. Anak yang merasa sekolah dan pintar enggan untuk berjuang dari bawah hingga pada saat nanti apabila mengalami kendala dalam kehidupannya seperti kurangnya lapangan pekerjaan dia drop. Oleh karena itu anak usia dini semestinya didik untuk mandiri dan mengenal lingkungan, belajar memecahkan masalah (problem solving) dan setelah sekolah dasar barulah didik untuk mengenal materi pelajaran umum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO