Kamis, 15 Januari 2009

MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN ANAK SEJAK DINI

Sudah menjadi permakluman bahwa pendidikan formal dewasa ini mengalami kebimbangan dalam menentukan sikap di mana pendidikan semestinya bersifat non profit namun seiring dengan globalisasi dan beban ekonomi yang ditanggung sekolah membawa pendidikan memasuki the new era yaitu bergeser ke arah semi profit atau bahkan profit murni. Biaya pendidikan melambung tinggi bersamaan dengan wacana sekolah gratis untuk seluruh rakyat terus dibahas namun tak kunjung terealisasi. Situasi ini tentunya tidak menguntungkan bagi setiap orang tua di mana pengeluaran untuk menyekolahkan anaknya sedemikian tinggi sehingga banyak kalangan masyarakat yang tidak mampu menjangkaunya.


Untuk mensukseskan Wajar Dikdas, Pemerintah telah banyak mengeluarkan produk perundang-undangan dan suplemen di bidang pendidikan yang nota benenya berusaha meringankan beban rakyat di bidang pemenuhan pelayanan pendidikan dasar. Salah satunya dengan mengeluarkan kebijakan BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang merupakan kompensasi dari kenaikan BBM. Namun harus diakui bahwa dana BOS ini belum mencukupi untuk dapat menoperasionalkan secara penuh kegiatan belajar mengajar disekolah sehingga bersifat meringankan bukan menggratiskan biaya sekolah. Di beberapa wilayah memang ada sekolah yang sudah dapat membebaskan biaya pendidikan muridnya dikarenakan banyak faktor pendukung seperti dana BOS yang dianggap cukup di latar belakangi oleh kondisi dan situasi sekolah atau subsidi dari pihak-pihak seperti Pemerintah Daerah dan pihak-pihak lain yang peduli terhadap pendidikan.


Bagaimanapun, sebelum wacana sekolah gratis benar-benar terlaksana, tetaplah hak anak memperoleh pendidikan yang layak adalah merupakan tanggung jawab dari orang tuanya. Perlu sebuah kesadaran tentang betapa pentingnya pendidikan di masa modern ini yang penuh dengan persaingan. Persiapan dana pendidikan untuk anak perlu dirumuskan dan dipersiapkan dengan matang. Kendala ekonomi yang selama ini menjadi salah satu faktor penghambat utama sebenarnya tidak dapat dijadikan sebuah kambing hitam. Apabila pemikiran masyarakat kita sudah sangat terbuka terhadap pentingnya pendidikan maka tentunya akan diraih dengan konsekwensi apapun.


Mempersiapkan pendidikan anak sejak dini dapat dilakukan dengan beberapa alternatif. Salah satu cara yang tergolong simple dan multi fungsi adalah dengan menanam pohon. Pohon di sini adalah pohon yang berupa tanaman keras seperti jati, sengon, atau bisa juga berupa tanaman buah. Dikatakan multi fungsi karena selain dapat dipetik hasilnya juga dapat mendukung program penghijauan. Dalam kapasitasnya sebagai pendukung persiapan biaya sekolah anak, penanaman pohon-pohon ini berfungsi sebagai tabungan untuk dapat dipergunakan menyekolahkan anak. Tentunya dengan pola tanam yang sekiranya dapat panen tepat ketika anak masuk ke Sekolah Dasar maupun ke sekolah lanjutan. Konsep ini walaupun terlihat sederhana namun sebenarnya cukup efektif dan tepat diterapkan di wilayah pedesaaan ataupun pelosok yang selama ini dipandang rata-rata tingkat perekonomiannya lebih rendah dari pada masyarakat perkotaan. Sebagai contoh , untuk dapat menyekolahkan anak sampai ketingkat Sekolah Menengah Atas ditanam tiga batang Pohon Jati Kencana dengan asumsi panen enam tahun, dua belas tahun, dan lima belas tahun sehingga waktu panen bertepatan dengan anak masuk sekolah.


Di masyarakat menengah ke atas untuk mempersiapkan pendidikan anak terdapat banyak opsi antara lain dengan mengikuti Program Tabungan Anak yang ditawarkan oleh Lembaga-lembaga Perbankan atau mengikuti Asuransi Pendidikan yang saat ini sudah menjamur. Pada era dahulu, sering diadakan sistem tabungan siswa di mana siswa menabung di sekolah dengan menyetorkan uang tabungan kepada guru masing-masing. Pada saat ini masih ada juga yang melaksanakan metode ini. Namun jika berbicara masalah investasi keuangan jangka panjang tentunya metode ini tidak tepat digunakan.


Baik Tabungan Pendidikan maupun Asuransi Pendidikan dewasa ini sudah bukan merupakan bahasan aneh bahkan cenderung bergerak ke kebutuhan. Hal ini terjadi karena tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mempersiapkan pendidikan anaknya di masa depan meningkat. Keinstabilan kondisi ekonomi yang mengacu kepada ketidakpastian perlindungan kerja dan pemikiran live risk bagi kepala keluarga membuat banyak masyarakat memilih untuk mempersiapkan masa depan anaknya sekaligus berinvestasi.


Semestinya setiap anak mempunyai Tabungan Pendidikan atau asuransi pendidikan sehingga masa depan mereka terjamin. Dengan adanya jaminan pendanaan masa depan ini maka akan semakin sedikit anak usia sekolah yang harus putus sekolah dikarenakan ketiadaan biaya ataupun dikarenakan ketidakmampuan orang tua akibat putus hubungan kerja,pensiun, cacat, ataupun meninggal. Memang tidak akan ada yang berharap buruk dalam kehidupannya namun dengan menyiapkan pendidikan anak ke depan merupakan salah satu wujud manifestasi dari kesungguhan dan tanggung jawab orang tua demi masa depan anak-anaknya.


Jika dikembalikan kepada keberadaan wacana sekolah gratis, persiapan matang terutama di bidang pendanaan pendidikan tidak akan ada rugi dikarenakan apabila telah sampai masa sekolah gratis benar-benar dicanangkan maka hasil dari investasi baik di Tabungan Pendidikan, Asuransi Pendidikan, maupun yang lain, dapat dipergunakan untuk mendukung kelengkapan-kelengkapan pendukung yang dapat semakin memajukan ketrampilan dan kecerdasan anak seperti membeli buku pendukung, peralatan sekolah, bahkan sampai produk-produk yang berhubungan dengan Teknologi Informasi.


Hakekatnya bahwa pendidikan bagi anak adalah merupakan hal yang wajib dan patut untuk terus disosialisasikan setiap waktu sehingga budaya sekolah benar-benar bisa menjadi budaya nasional. Jika dalam diri setiap warga negara sudah terpatri tentang betapa pentingnya pendidikan maka dapat dipastikan negara ini akan segera menuju babak baru yang lebih baik. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO