Selasa, 04 Februari 2014

KEHANCURAN WONOSOBO TAHUN 1925 : LEBIH DARI 1000 ORANG MENINGGAL

Sangat sedikit masyarakat Wonosobo dan peminat sejarah yang mengetahui kejadian yang sangat memilukan dan menjadi Top News di era Hindia Belanda Tahun 1924 – 1925. Alam Wonosobo yang selama ini dikenal ramah dengan penduduknya, luluh lantak akibat gempa di Tahun 1924.  



Dalam sebuah terbitan Majalah Lama Berbahasa Belanda “Indie” yang terbit pada Tanggal 7 Januari Tahun 1925, disebutkan secara dramatis kejadian bencana gempa di Wonosobo kurang lebih sebagai berikut : “Wilayah Wonosobo di Hindia Belanda dikejutkan oleh teriakan melengking kesakitan dari masyarakat yang semula hidup bahagia berubah menjadi kemalangan , kesusahan dan kemiskinan . Dalam beberapa hari dan beberapa malam semua yang mereka miliki dan sayangi , hilang, sehingga kesedihan dan keputusasaan telah mencengkeram hati mereka ,Di daerah padat penduduk , cengkeraman bencana alam tanpa henti. Rumah hancur , ternak mati dan melarikan diri , hingga celah-celah akibat bencana menelan manusia, hewan, dan desa. Kampung atau jurang runtuh secara ajaib dikepung oleh gempa bumi dalam hitungan detik , sementara banjir melanda. Pemandangan daerah yang padat bangunan rusak. Ya , saat kita menulis ini , itu sudah dihitung lebih dari seribu orang mati. “


Bangunan di masa kolonial yang nyaris runtuh di WonosoboTahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand) 


Dramatisasi kejadian gempa di Wonosobo ini sebenarnya tidaklah berlebihan, salah seorang politisi Hindia Belanda Mr Wijnkoops dalam rapat interpelasi Pemerintah Hindia Belanda pertemuan ke 39 Tanggal 17 Desember 1924, menyatakan dalam sela orasi politiknya : “Saya ingin berbicara tentang bencana yang terjadi di Wonosobo yang saat ini menjadi bahan pembicaraan , dengan gempa bumi yang mengerikan kawasan yang indah di bagian dari Jawa Tengah ini telah hancur . Saya mengucapkan bela sungkawa dan berusaha memberikan suatu yang lebih untuk daerah yang indah tersebut. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi disana.” 



Rumah penduduk di Wonosobo yang ambruk karena gempa Tahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand) 

Gempa terjadi dimulai pada hari Minggu 9 November 1924. Terdapat 5 guncangan dimana 3 guncangan terasa begitu keras sehingga penduduk yang mempunyai rumah yang terbuat dari batu meninggalkan tempat. Rabu, 12 November 1924 terasa dua guncangan kuat di sore hari yang menyebabkan kerusakan sangat serius. Gempa berlangsung 10 menit dengan guncangan yang keras dan bergelombang dari arah utara disertai suara yang bergemuruh . Minggu, 16 November 1924 gempa kembali mengguncang cukup kuat . Pusat gempa , 4 KM BL dari pusat Kota Wonosobo , telah menyebabkan fragmentasi dan pergeseran lapisan tanah. 

Beberapa daerah yang disebut terkena dampak terparah adalah kampung Kali Tiloe, Pagetan, Salam, dan Larang yang terseret runtuhnya tanah. Sedangkan dampaknya mencapai daerah Wonoroto dari utara ke selatan dari pusat gempa. Banyak kampung mengalami kerusakan yang sangat parah (Indie, hlm 331). Lalu apakah yang menyebabkan gempa mengerikan ini? Pada waktu itu tidak ada aktifitas vulkanik yang terekam. Getaran gempa ini murni gempa tektonik. Banyaknya tanah yang bergerak dalam gempa ini adalah hasil dari situasi geologi yang aneh . Kondisi ini diperparah dengan adanya lumpur yang masuk ke Sungai Serajou (Serayu) dan Sungai Prengae (?) akibat gempa dan hujan lebat yang turun sedemikian besar pada waktu itu, membuat air menaik dan menimbulkan banjir besar yang menghancurkan banyak jembatan sehingga Wonosobo terputus jalur komunikasi dan transportasi. Begitu dasyatnya penderitaan penduduk Wonosobo pada saat itu yang sebelumnya telah didera kemiskinan akibat kolonialisme ditambah dengan deraan gempa dan banjir besar yang mengikutinya. 


Sebuah bukit di Wonosobo yang runtuh karena pergeseran tanah akibat gempa bumi Tahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand)

Gempa yang terjadi tidak hanya menghancurkan wilayah pedesaan saja namun juga meluluh lantakan bangunan-bangunan kokoh di pusat kota. Beberapa bangunan kolonial ambruk bahkan Hotel Dieng (Hotel Kresna sekarang) hancur. Beberapa bangunan lain yang masih berdiri mengalami kerusakan yang sangat parah. 

Hotel Dieng (Hotel Kresna sekarang) mengalami kerusakan berat akibat gempa Tahun 1925. (foto : Tropen Museum Holand) 

Bantuan dari berbagai pihak mengalir ke Wonosobo setidaknya ini dibuktikan dengan adanya salah satu pagelaran tinju di Surabaya pada Tanggal 4 Januari 1925 yang disponsori oleh warga keturunan Tionghoa dimana hasil penjualan tiket disumbangkan untuk korban gempa bumi di Wonosobo (A.S. Marcus,2002). Kejadian gempa yang menghancurkan memang telah lama berlalu. Seiring dengan lajunya jaman, cerita dan sejarah tentang kejadian ini seperti hilang tidak berbekas. Namun dengan terangkat kembali cerita sejarah yang hilang ini diharapkan masyarakat Wonosobo yang hidup di era modern ini untuk kembali berintrospeksi mengukur bagaiman kita bersyukur dan lebih bersahabat dengan alam. Semoga tidak terjadi bencana yang mematikan seperti Tahun 1925 di jaman modern ini. (Penelitian literatur oleh Bimo Sasongko - Staf Perpustakaan Kab. Wonosobo) Jatiningjati.com

Daftar Pustaka :
Indie, Eillustreerd Indschrift Voor Nederland En Kolonien , N.V. Boekhandel En Drukkerij G. Kolff & Co., Weltevreden, Nederlandsch Oost-Indie: No. 21 7 Januari 1925 PERTEMUAN ke-39. - 17 Desember 1924. 4. 

Adopsi Anggaran SCH Hindia Belanda sebelum 1925. - Interpelasi "Wijnkoops. http://resourcessgd.kb.nl/SGD/19241925/PDF/SGD_19241925_0000006.pdf 

De Aardbevingen van Wonosobo op 12 November en 2 December 1924. Door Ir. N.J.M. Taverne. En De Aardbeving van Maos op 15 Mei 1923. 

Door Dr. Ch. E. Stehn. A.S. Marcus, Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1,2002, Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.

Foto : Troppen Museum Holand

Read More......

Senin, 11 November 2013

WACANA DI AWANG_AWANG (Free E Book)

Sebuah karya yang mungkin sangat tidak berarti yang dibuat hanya untuk menjadi sebuah monumen mimpi indah dengan bumbu kata “jikalau” atau “kalau saja”. Wacana adalah ide di awang-awang dimana setiap orang dengan mudah melontarkannya namun biasanya sulit dilaksanakan walaupun yang melaksanakan adalah “penemu” wacana awal.


Embel-embel untuk mensejahterakan Rakyat Wonosobo menjadi salah satu pelengkap karya ini untuk mengunggah hal-hal klasik dalam jargon-jargon disetiap suasana pembahasan orang-orang berwacana. Agar seperti terlihat intelek dan pro rakyat Dari semua skeptisme, harapan kecil adalah karya wacana ini dapat dipakai oleh orang-orang yang sederhana dan mau bekerja untuk rakyat (kalau masih ada) dengan demikian kaisan pahala ilmu dapat diraih penulis walau satu dua tetes.
Silakan down load di link ini : WACANA DI AWANG-AWANG

Read More......

LEGENDA WONOSOBO (Free E. Book)

Wonosobo bagaikan sebuah wilayah yang miskin akan data sejarah. Sebegitu banyak peninggalan bersejarah yang terserak namun tlatah ini seperti amnesia dengan siapa dirinya. Kumpulan legenda ini dibuat untuk membangkitkan kebali memori Wonosobo sebagai daerah yang mempunyai
sejarah panjang. Jauh lebih tua dari klaim umurnya .
Dengan adanya banyak legenda yang mulai terkuak maka diharapkan tumbuh semangat dari para putra daerahnya untuk mulai lebih menguri-uri sejarah dan budayanya. Kumpulan legenda ini merupakan kumpulan tulisan dari Lis Retno Wibowo Jawa Pos Radar Semarang yang telah pernah di “publish” di Jawa Pos (2006-2008). Ditambah tulisan dari Dwi Putranto Bimo Sasongko yang telah di up load di www.jatiningjati.com. Berharap semoga bermanfaat dunia akherat sebagai sedekah ilmu dari kami.
Klik Link ini untu down load bukunya : Legenda Wonosobo

Read More......

Sabtu, 19 Oktober 2013

Free E Book "Mr. Moch Dalijono : Pejuang Demokrasi Yang Terlupa"

Menyusun biografi seorang tokoh tidak lepas dari sebuah konsep fakta sejarah hidupnya dan subyektifitas dari sang penyusunnya. Pada penulisan biografi Mr. Moch. Dalijono : Pejuang Demokrasi Yang Terlupa, penyusun berusaha meminimalkan subyektifitas dan mengetengahkan fakta dari banyak sumber.

Memang diakui sangat sulit membuat biografi tokoh salah seorang pembangun pondasi bangsa ini dikarenakan sedikitnya literatur sejarah yang diketemukan. Mr. Moch. Dalijono adalah salah satu tokoh Masyumi.Menyitir pendapata Mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Izha Mahendra yang menyiratkan adanya diskriminasi dan tekanan politik pada era Orde Baru pada tokoh-tokoh nasional dari Masyumi sehingga banyak catatan sejarah di era tersebut menjadi sangat minim. Namun setidaknya sejimpit fakta yang diketemukan dan ditulis dalam buku ini dapat memberikan gambaran riil perang penting Mr. Moch Dalijono dalam percaturan politik era kemerdekaan dan era orde baru.
Silakan down load bukunya di link ini gratis :
BUKU Mr. MOCH. DALIJONO : PEJUANG DEMOKRASI YANG TERLUPA

Read More......

Jumat, 18 Oktober 2013

BERPIKIR UNTUK MENANG : Telaah Persiapan Kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Free e-book)

Dengan terbukanya kran demokrasi , kebebasan dalam banyak hal seperti mengalir deras. Dalam mempersiapkan segala sesuatu tentang PILKADA langsung dari persiapan, kampanye , maupun setelah usai perlu adanya wacana-wacana pembanding yang bisa dicoba untuk menjadi salah satu rujukan. Dalam makalah ini penulis memakai pendekatan normatif namun keras dengan menerapkan pemikiran filsuf Machiafeli. Beberapa kegiatan dan acuan dalam perencanaan sampai akhir dicoba untuk diurai dengan cukup terperinci termasuk hal-hal yang mungkin timbul setelah pasca PILKADA. Apapun yang diusahakan tentunya tidak ada yang menjamin keberhasilannya 100 %, demikian juga dengan makalah ini. Kesempurnaannya maupun logika pikir yang dibuat mesti dikaji dengan arif dan lebih akurat. Silakan mendown load tulisan dengan link  ini : BUKU BERPIKIR UNTUK MENANG

Read More......

Senin, 10 Oktober 2011

Ki Ageng Enis, Ulama Alim, Eyang Dari Raja-Raja Mataram

Saat ini sangat jarang generasi muda kita mengenal tokoh bernama Ki Ageng Enis ini. Bahkan masyarakat di mana beliau pernah hidup ,banyak yang tidak paham di mana letak makam beliau. Jika diberikan petunjuk makam yang terletak di Masjid Laweyan ( Ada yang menyebut Langgar Merdeka ? ) Masjid tertua di Kota Solo, orang masih mengernyitkan dahi karena Masjid tertua itupun tidak dikenal oleh sebagian masyarakat Solo. Padahal sejarah Kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal “Tree Kingdom” yaitu Kasunan, Mangkunegaran, dan Ngayogyakarto Hadiningrat bermula dari Ki Ageng Enis.
Ki Ageng Enis adalah keturunan langsung atau putra bungsu dari Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo sendiri terkenal dengan legenda menangkap petirnya yang masih sering kita dengar di cerita rakyat. Ki Ageng Enis dikenal sebagai ulama pada jamannya. Beliau mengabdi kepada Sultan Pajang Hadiwijoyo (Joko Tingkir) dan diberikan tanah perdikan di Laweyan yang kemudian menjadi cikal Masjid Laweyan.

Masjid Laweyan sendiri konon dahulu merupakan sebuah Pura Agama Hindu milik Ki Ageng Beluk. Laweyan pada era Kerajaan Pajang masih dihuni oleh mayoritas warga beragama Hindu. Setelah sekian waktu  Ki Ageng Enis tinggal di Laweyan, Ki Ageng Beluk tertarik masuk Islam dan menyerahkan Pura-nya untuk dijadikan masjid. Jadilah wilayah Masjid Laweyan ini menjadi pusat penyebaran Agama Islam pada waktu itu.

Panembahan Senopati Raja Mataram Islam pertama, ketika kecil hidup di Laweyan yaitu di Kampung Lor Pasar sehingga beliau sering disebut dengan Mas Ngabehi Loring Pasar. Lalu apakah Panembahan Senopati dan Ki Ageng Enis hidup dalam jaman yang sama? Jawabannya adalah benar, karena Panembahan Senopati adalah Putra dari Ki Ageng Pemanahan  dan cucu dari Ki Ageng Enis. Konon kesaktian dan ilmu agama Panembahan Senopati atau Danang Sutowijoyo adalah hasil dari didikan Ki Ageng Enis yang karena kesaktiannya mendapat julukan Ki Ageng Luwih. Luwih dalam hal ini bermakna linuwih atau sangat sakti. Ki Ageng Enis sangat dihormati oleh masyarakatnya karena selain mempunyai kesaktian tinggi juga dikenal sebagai ulama yang alim. Masa hidupnya dihabiskan di masjid untuk beribadah.

Ketika terjadi pemberontakan Raden Mas Garendi terhadap Pakubuwono II, Masjid Laweyan menjadi tempat pelarian Pakubuwono II dan sekaligus menjadi tempat tirakat beliau memohon kepada Allah SWT untuk dapat merebut Kartosuro kembali. Ketika pemberontakan bisa dipadamkan, Pakubuwono II membuat gerbang khusus untuk dilalui beliau jika akan berziarah ke Makam Ki Ageng Enis. Namun gerbang ini hanya dipakai satu kali karena satu tahun setelah pembuatannya Pakubuwono II meninggal. Jenazahnya dimakamkan di komplek makam Ki Ageng Enis maka komplek makam ini sering disebut dengan Astana Laweyan. Beberapa waktu kemudian makam Pakubuwono II dipindahkan di Pajimatan Makam Raja Mataram Imogiri.

Jika berziarah di Laweyan , lokasinya dekat dengan Kampung Batik Laweyan dan Museum Samanhudi. Makam terletak disebelah Masjid Laweyan. Untuk masuk ke dalam sebaiknya lewat juru kunci makam karena  komplek mempunyai tiga gerbang dimana gerbang ke-dua biasanya terkunci. Komplek makam Astana Laweyan ini merupkan komplek makam tua yang sudah berumur 500 tahun lebih. Di sekitar makam terdapat pohon-pohon yang disebut pohon nagasari yang bermakna sebagai pelindung makam (dijaga oleh para naga). Makam yang bersebelahan langsung dengan makam Ki Ageng Enis adalah Nyi Ageng Pandanaran dan Nyi Ageng Pati.Ki Ageng Enis diperkirakan berdakwah pada sekitar Tahun 1550 M sampai dengan Tahun 1600-an masehi. Beliau masih keturunan dari Brawijaya V Raja Majapahit terakhir. Dalam cerita rakyat setempat konon kerangka dan mahkota Brawijaya V ikut dikuburkan dalam satu liang di Makam Ki Ageng Enis.Wallahualam.(jatiningjati.com)

Read More......

Selasa, 21 Juni 2011

Sirah Nogo Bundet : Bicara pendidikan??, pokoknya kamu bodoh! Titik

Menyitir legenda perancis three musketeer yang terkenal dengan semboyannya one for all, all for one, dalam sistem pendidikan kita hampir sama menggunakan semboyan itu yaitu satu mata pelajaran bisa untuk semua dan semua harus bisa seluruh mata pelajaran. Hal ini semestinya mendapat perhatian bagi para pemerhati padepokan pendidikan dikarenakan tuntutan kita terhadap anak bangsa ini terlalu tinggi yaitu anak harus bisa semua ilmu. Memang gen ras manusia , yaitu gen Nabi Adam yang mampu menghafal semua ciptaan Tuhan, ada dalam tubuh kita. Namun sepertinya waktu puluhan bahkan ratusan ribu tahun sampai di waktu sekarang ini, gen itu bisa jadi sudah bermutasi sedemikian banyak ,terutama dibidang kecerdasan manusia. Wallahu alam.

Sangat disayangkan sistematika pendidikan yang kita anut saat ini masih belum memungkinkan anak-anak kita untuk dapat memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan bakatnya. Jika anak kita sangat menyukai matematika dan berprestasi di bidang itu , maka anak harus mau-tidak mau tetap mempelajari mata pelajaran lain dengan kapasitas yang sama.

Sangat sulit mengatakan bahwa seorang anak dikatakan tidak berprestasi karena mendapat nilai 5 pada mata pelajaran matematika sedangkan dalam mata pelajaran sbk (kesenian) dia mampu menggambar dengan sangat bagus. Atau sulit mengatakan bodoh kepada siswa yang memperoleh nilai 5 pada bahasa jawa sedangkan mendapat nilai 9 atau 10 pada bahasa asing. Belum lagi banyak siswa yang nilai akademik-nya rendah namun berprestasi di bidang olah raga,sains teknologi, maupun keagamaan.

Sistem seperti sekarang ini mengakibatkan siswa tidak akan pernah maksimal dalam menguasai bidang atau ilmu yang dia kuasai. Sebagai perumpamaan, seorang anak pandai dalam meng otak-atik komputer sehingga dia menguasai teknologi informasi dengan baik, kreatif dalam membuat blog,dan lain sebagainya. Tetapi disekolah mendapat angka 5 di mata pelajaran matematika sehingga sekolah ”mengancam” si anak jika nilainya masih seperti itu maka tidak akan naik. Hal ini diperparah dengan kepanikan orang tua yang langsung memvonis anaknya malas dan bodoh, sehingga perlu di les-kan ini itu. Lebih buruk lagi si anak tidak boleh lagi menggunakan komputer sebagai hukuman dan agar fokus kepada pelajaran. Wah hebat sekali budaya pendidikan di nagari ini?.

Bagaimana kita dapat memperoleh SDM yang siap pakai, profesional , ber-ilmu yang khatam? Semua akan serba setengah-setengah. Sebuah kerugian yang luar biasa besar bagi nagari ini.

Mungkin perlu adanya studi ke nagari-nagari yang tinggi tingkat human development index atau menelaah pendidikan yang menyatukan adat budaya dan modernitas. Perlu keberanian dari para pemegang kebijakan untuk mereformasi pendidikan kita menjadi lebih baik, mohon maaf tidak hanya berpikir bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan dihitung dari berapa besarnya penyerapan anggaran.

Masih percaya dan berharap bahwa pada suatu saat nanti ada ”satriyo piningit” yang benar-benar mereformasi pendidikan sedemikian rupa sehingga pendidikan benar-benar bernafaskan pendidikan (bukan berdasarkan ego sang empu / adipati/ tukang ingsinyur / paranormal ,etc) dan diperuntukkan kepada daripadanya rakyat.

Kata ”pokoknya kamu bodoh! Titik” mungkin lebih cocok untuk Ki Sirah Nogo Bundet saja. Untuk para generasi platinum mendatang tidak. Cukup kami saja yang menyerap cap bodoh dari banyak orang. Semoga keterwakilan ini cukup.

Read More......

Minggu, 20 Februari 2011

Tirtodongso I Empu Pembuat Keris Pada Jaman Pakubuwono VII

Dituturkan oleh para sesepuh, Eyang Tirtodongso itu adalah seorang Empu yang bekerja pada Kerajaan Kartosuro pada sekitar tahun 1700. Empu itu adalah seorang yang ahli dibidang tertentu, disini keahliannya adalah dalam membuat keris, senjata atau alat perang lainnya. Beliau adalah keturunan dari Empu Supo, salah seorang Empu terkenal yang mengabdi pada Kerajaan Prabu Brawijaya V di Majapahit. Empu Supo yang masa kecilnya bernama Joko Supo,disebutkan adalah putra Tumenggung Supardya, Wedana dalem kerajaan Majapahit, yang juga adalah seorang Empu dikala itu.

Empu Supo adalah murid Ki Sunan Kalijogo dan juga Ipar dari Beliau karena Empu Supo memperistri adik Beliau yang bernama Dewi Rasawulan.Empu Supo dikenal dikalangan masyarakat Jawa sebagai pembuat / pencipta keris pusaka dari Kiyai Sunan Kalijogo yang diberi nama Kiyai Carubuk, Keris pusaka milik Empu sendiri. Kiyai Sengkelat , Keris Nogososro. Dan keris - keris ampuh lainnya yang masih dikenal sampai dewasa ini dalam masyarakat Jawa.

Ki Tirtodongso dikenal luas dan dihormati dimasyarakatnya,sehingga dikisahkan sewaktu beliau wafat, oleh masyarakat tidak diinginkan dibawa / diangkut dengan kereta jenasah, karena masyarakatnya mengharapkan memikul bersama secara estafet jenasah beliau dari tempat tinggal beliau sampai kepemakaman Kemit Klaten.

Ibu SUTOMO SASTROWILOBO sebagai kerabat warga keturunan Tirtodongso masih ingat akan pesan Eyang Tirtodongso yang isinya anak cucu keturunan Beliau agar selalu berbuat “Tansah Tumindak Utomo“ yaitu selalu berbuat utomo, jujur, sabar, bijaksana cinta kebenaran dan berbuat adil. Dalam bidang pekerjaan atau profesi “ Tansah Tumindak Utomo” itu berarti selalu melakukan pekerjaan / profesi dengan sebaik - baiknya, penuh tanggung jawab, berdedikasi dan jujur serta iklas.

Ada dua versi menurut kisah turun temurun yang disampaikan. Eyang Tirtodongso masih keturunan dari Eyang Empu Kraton Majapahit sewaktu Prabu Browijoyo V. Adapun Eyang Empu itu sendiri masih keturunan dari Eyang Djoko Dolog dan dari Prabu Browijoyo V.

Sedangkan menurut Bapak SOEKARMANTO HARDJOSOEDIRO dan dari keterangan Bapak Mr.SOEDJONO HARDJOSOEDIRO, Eyang Tirtodongso itu masih ada hubungan keturunan dari
Eyang Empu Supo dan dengan Kraton Pajang ( Sunan Amangkurat I ) yang meninggal di
Tegalarum Tegal. Beliau juga menyarankan agar Kyai Djafar yang diperkirakan masih ada
kaitannya dengan Eyang Tirtodongso, dilacak bagaimana ceriteranya dan siapa. Eyang
Tirtodongso mewarisi bakat Empu dan menjadi Empu Kraton Kartosuro, ahli dalam membuat
peralatan perang untuk Kraton Surakarta..


Karya Keris Tirtodongso

Selain tinjauan sisi esoteri, teknik beras utah kemudian berkembang dengan berbagai variasinya. Pada jaman Paku Buwana IV, Surakarta, gebagan dipelopori oleh empu Brojoguno yang kemudian sering disebut dengan keris Mangkubumen, oleh karena empu Brojoguno kemudian mendapat gelar Kanjeng Pangeran Mangkubumi (pada jaman PB V). Variasi teknik gebagan dilanjutkan secara lebih ekstrim lagi oleh empu Tirtodongso pada jaman Paku Buwana VII-IXdan empu Djojosukadgo, pada jaman Paku Buwana ke X.
Dibenarkan oleh KPH. Poerwohadikusumo, sesepuh dari Solo, keris karya empu Brojoguno jaman Paku Buwana IV; dapat dibaca dari adanya ciri gedigan pada bawah gonjonya (pamor sumberan). Jika membuat keris ber-luk ciri-ciri sogokannya kandas wojo, bawang sebungkulnya terkadang dibuat besar. Keris seperti ini dipastikan karya Brojoguno setelah bergelar Pangeran Mangkubumi atau sering disebut keris Mangkubumen.
Konon empu Tirtodongso, melanjutkan gaya keris Mangkubumen ini dengan supervisi dari Brojoguno sendiri yang usianya sudah uzur.

Walaupun rancang bangunnya hampir sama, yakni sogokan kandas wojo dan terkadang membuat bawang sebungkul besar, namun karya empu Tirtodongso tidak ada ciri gedigan (pamorsumberan) pada gonjo bawahnya, serta jarang melengkapi sekar kacangnya dengan jenggot. Keris Brojoguno/Mangkubumen PB IV-V boleh dibilang kebanyakan memakai jenggot, tidak meninggalkan ciri khas Madura-nya, serta grenengnya sering dimulai dengan cekohan dangkal.

Ringkasnya, perbedaan mendasar karya empu Tirtodongso adalah gonjo bawah tidak ada sumberan (gedigan) bahkan karya Tirtodongso sering gonjo wulung.

Read More......

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO