Sabtu, 21 Oktober 2017

KI AGENG WONOSOBO – CIKAL KERAJAAN MATARAM

Tulisan ini merupakan penambahan kajian legenda dan literasi pada tulisan saya di www.jatiningjati.com pada medio Tahun 2009 dengan judul artikel “ Ki Ageng Wonosobo : Cikal Raja-Raja Mataram Islam”. Dengan semakin banyaknya teman dan sahabat pecinta sejarah atau legenda Wonosobo yang meminta saya sedikit menggali kembali keberadaan Ki Ageng Wonosobo maka saya share kembali artikel tersebut dengan beberapa tambahan versi dan penelusuran literasi. Semoga berkah dan ridho Allah bersama kita. Amin.. 

Trah Raja Mataram Islam bermula dari sebuah daerah yang bernama Kabupaten Wonosobo tepatnya di Desa Plobangan Kecamatan Selomerto. Di sanalah Situs Makam Ki Ageng Wonosobo ( Kyai Ageng Ngabdullah) berada yang saat ini menjadi salah satu Obyek Wisata Ritual Kabupaten Wonosobo. Lepas dari pro kontra siapa sebenarnya Ki Ageng Wonosobo ini namun yang jelas nama beliau yang sama dengan Kabupaten Wonosobo menunjukkan bahwa di wilayah Wonosobo pada abad ±14 M telah ada kehidupan sosial kemasyarakatan.

Ki Ageng Wonosobo dikenal pula dengan nama Kyai Ageng Ngabdullah juga ada yang menyebut beliau Ki Ageng Dukuh, sedangkan di Desa Plobangan lebih dikenal dengan nama Ki Wanu atau Ki Wanuseba. . Menurut saya perbedaan nama ini lebih cenderung disebabkan dialek daerah tersebut terpengaruhi oleh dialek Banyumas (www.jatiningjati.com). Nama kecil beliau adalah Raden Depok namun ada juga yang menyebut nama kecil beliau Raden Joko Dukuh. Menurut beberapa versi Beliau lahir di Kota Gede Yogyakarta pada sekitar Tahun 1500 Masehi. Siapa Ki Ageng Wonosobo atau Ki Ageng Dukuh ini?

Menurut versi “Bale Kajenar Kota Gede” Beliau merupakan cucu dari Prabu Brawijaya V Raja Majapahit terakhir dan merupakan putra dari Raden Bondan Kejawen (Lembu Peteng) putra Brawijaya V yang menikah dengan Nawangsih. Nawangsih sendiri adalah putri dari Ki Joko Tarub yang menikah dengan Dewi Nawangwulan (epos Joko Tarub). Secara trah keturunan, Ki Ageng Wonosobo masih Sayid atau keturunan Nabi Muhammad SAW karena Ki Joko Tarub adalah putra dari Maulana Malik Ibrahim yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari Trah Hendramaut. Ki Ageng Wonosobo merupakan keturunan langsung yang terhubung kepada Sayidina Ali bin Abu Thalib lewat jalur Imam Husain bin Ali.

Menurut versi Serat Walisana dalam buku “Mengislamkan Tanah Jawa” karya Wijil Saksono yang ditulis kembali oleh Kholiq Arif dan Otto Sukatno CR pada Buku “Mata Air Peradaban”, jauh sebelum era Mataram Islam yaitu pada era Kerajaan Demak sudah terdapat nama “Wonosobo” atau “Wanasaba” yang dipakai sebagai gelar seorang tokoh yaitu Ki Gede Wanasaba. Menurut Serat Walisana sudah disebut adanya Wali Nukba yang merupakan bentuk muradif bagi kata ‘uqbah atau badal yang berarti wakil, belakangan atau pengganti yang didalamnya menyebut nama Ki Gede Wanasaba.

Masih Menurut versi Serat Walisana, nama Ki Gede Wanasaba tertuang dalam Serat Walisana, pupuh XXIX, bait 10 – 13 yang memakai langgam Asmarandana sebagai berikut :

Kang nututi ambek wali / Anenggih Sunan Tembayat / lan Sunan Giri Parepen / Jeng Sunan Kudus kalawan / Sultan Syah ‘Alim Akbar / Pangeran Wijil Kadilangu / Kelawan Kewangga / Ki Gede Kenanga Pengging / malihe Pangeran Konang / lawan Pangeran Cirebon / lan Pangeran Karanggayam / myang Ki Ageng Sesela / tuwin myang Pangeran Panggung / Pangeran ing Suparingga / Lan Kiai Juru Mertani / ing Giring myang Pemanahan / Buyut Ngerang Sabrang Kulon / lan Ki Gede Wanasaba / Panembahan Palembang / Ki Buyut ing Banyubiru / lawan Ki Ageng Majastra / Malihe Ki Ageng Gribig / Ki Ageng ing Karontangan / Ki Ageng ing Toyajene / lan Ki Ageng Tuja Reka / pamungkas Wali-Raja / nenggih Kanjeng Sultan Agung / kasebut Wali Nubuwat. 

Dalam hubungannya dengan berdirinya Mataram Islam, Ki Ageng Wonosobo berputra Pangeran Made Pandan yang dibeberapa literatur yang saya baca merupakan nama lain dari Ki Ageng Pandanaran pendiri Kota Semarang pada era Demak Bintoro. Pangeran Made Pandan berputra Ki Ageng Saba. Ki Ageng Saba ini ada kemiripan dengan Ki Ageng Wonosobo namun tidak jelas apakah keberadaan Ki Ageng Saba ada kaitannya dengan Wonosobo tempo dulu. Selanjutnya, Ki Ageng Sobo mempunyai seorang putri yang menikah dengan Ki Ageng Pemanahan yaitu Nyi Ageng Pemanahan yang merupakan Ibu dari Sutowijoyo atau lebih dikenal dengan Panembahan Senopati ing Alogo Syekh Sayyidina Pranoto Gomo (Panembahan Loring Pasar ? ) pendiri Kerajaan Mataram Islam di Kota Gede Yogyakarta. Dari Penembahan Senopati ini turunlah trah Ki Ageng Wonosobo menjadi raja-raja Mataram Islam sampai dengan era Keraton Surakarta Kasunan, Keraton Ngayogyakrto Hadiningrat, dan Mangkunegaran sekarang ini.

Menurut beberapa versi, trah Ki Ageng Wonosobo banyak menjadi penguasa di Tanah Jawa karena strategi para Wali untuk syiar Islam dengan mendirikan Kerajaan Islam di Tanah Jawa. Salah satu persyaratan pembentukan Kesultanan Islam baik di Jawa atau di daerah lain harus mendapatkan “Legitimasi / Pengesahan” dari Mekah dan / Turki, jalur untuk keperluan tersebut dimiliki oleh para “Ahlul Bait”. Ki Ageng Wonosobo merupakan “Ahlul Bait” sehingga keturunannya digembleng untuk persiapan memperkuat Kesultanan Islam di masa itu.

Ki Ageng Selo yang terkenal dengan kesaktiannya menangkap petir pada era Kerajaan Demak merupakan menantu dari Ki Ageng Wonosobo. Ki Ageng Selo menikah dengan salah satu putri Ki Ageng Wonosobo dan menurunkan seorang putra bernama Ki Ageng Enis (Makamnya di Laweyan Solo). Ki Ageng Enis merupakan tokoh penyebar Agama Islam terkemuka di era Kerajaan Pajang pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Begitu terkenalnya Ki Ageng Selo pada waktu itu sehingga konon pertemuan beliau dengan Ki Ageng Wonosobo diabadikan dengan nama wilayah yaitu Selomerto. Sedangkan tempat pernikahan Ki Ageng Selo dengan putri Ki Ageng Wonosobo dinamakan Selokromo.

Menilik versi legenda lokal yang berkembang di Desa Plobangan, Ki Ageng Wonosobo kono adalah murid dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang kemudian ditugaskan untuk menyebarkan Agama Islam di Wilayah Jawa Tengah. Dalam pengembaraannya Ki Ageng Wonosobo menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan padepokan dan membuka hutan serta lahan di daerah tersebut. Wilayah yang dibuka oleh Ki Ageng Wonosobo ini adalah wilayah Desa Plobangan saat ini. Kata Wonosobo merupakan pentasbihan nama wilayah tersebut atas jasa besar Ki Ageng Wonosobo membangun daerah tersebut.Masih menurut versi legenda lokal, Ki Ageng Wonosobo merupakan sosok yang berwibawa dan mempunyai banyak ilmu selain ilmu agama. Beliau pandai bercocok tanam sehingga lama kelamaan berdatangan banyak pengikut dan orang yang bermukim di Plobangan Wonosobo.

Sampai saat ini hanya ada satu makam Ki Ageng Wonosobo yang terdapat di Desa Plobangan, tidak ada makam dengan nama yang sama di daerah lain seperti yang sering dijumpai pada punden atau tokoh penting masa lalu. Gelar Ki Ageng pada masa lalu merupakan gelar yang tidak main-main karena gelar tersebut diberikan kepada orang yang mempunyai kemampuan besar di bidang agama dan pemerintahan serta mempunyai banyak kelebihan dan kemampuan. Konon Ki Ageng Wonosobo tidak hanya berdakwah di wilayah Wonosobo saja namun ada yang mengatakan bahwa beliau juga berdakwah di wilayah Yogyakarta dan Solo. Di wilayah Solo konon terdapat Masjid tua yang merupakan peninggalan Ki Ageng Wonosobo. Oleh penduduk setempat Masjid tersebut disebut Masjid Tiban karena oleh Ki Ageng Wonosobo hanya dibuat dalam waktu satu malam. Penulis sampai saat ini belum bisa mencari Masjid tersebut karena belum bisa mencari titik tepat keberadaan Masjid peninggalan Ki Ageng Wonosobo tersebut.

Dalam versi lain sebuah catatan kesultanan Ngayogyakarta, oleh KRT. Yudodipraja tahun 1991 , menjelaskan terkait Ki Ageng Wonosobo bahwa nama beliau bukan Syech Ngabdullah tetapi Syekh Kabidullah. Adapun nama Syech Ngabdullah adalah nama lain dari Ki Getas Pandawa saudara dari Ki Ageng Wonosobo. Kemudian nama Raden Depok bukan nama kecil Ki Ageng Wonosobo namun nama kecil dari Ki Ageng Getas Pandawa. Kedua beliau ini berguru kepada Sunan Gunung Jati dan menjadi menantu dari Sunan Gunung Jati ,

Catatan Kesultanan Ngayogyakarta KRT Yudodiprojo Tahun 1991.

 Raden Joko Dhukuh Manjing Islam Nyekabet dhateng Sunan Mojogung Gunung Jati tanah Cirebon lajeng kapundhut mantu keparingan nama Syeh Kabidullah, dedalem Ing Wonosobo karan Ki Ageng Wonosobo,

Raden Dhepok Manjing Islam nyekabet dhateng Sunan Mojogung Gunungjati ugi kapundhut mantu keparingan nama Syeh Ngabdulloh dedalem ing Getas Pandhawa.

Situs makam beliau saat ini telah dipugar dan dijaga dengan baik oleh warga sekitar. Lokasi Situs makam ini sangat dihormati oleh masyarakat dikarenakan Ki Ageng Wonosobo merupakan tokoh penyebar Agama Islam dan sekaligus cikal dari Desa Plobangan Selomerto. Di sekitar makam Ki Ageng Wonosobo terdapat tiga makam kuno lain yang dipagar. Kono ketiga makam ini juga para pendahulu yang merupakan Ulama di era yang sejaman dengan Ki Ageng Wonosobo. Salah satunya adalah Kyai Chotik yang makamnya berada di bawah pohon beringin yang sangat tua dan besar. Diameter pohon beringin ini sekitar 4 meter (mengingatkan saya dengan pohon beringin di Ibu Kota Mataram Kota Gede Jogja) dan makam Kyai Chotik dikelilingi oleh akar pohon beringin tersebut. Makam Kyai Chotik sendiri hanya berjarak kurang lebih 10 meter dari Makam Ki Ageng Wonosobo.

Keberadaan situs Ki Ageng Wonosobo ini semakin menguatkan bahwa pada abad 14 M , Wonosobo sudah mempunyai peran yang cukup penting dalam pengembangan Agama Islam sekaligus mungkin sudah mempunyai pemerintahan di tingkat kecil (mungkin pedukuhan). Yang jelas ketepatan sejarah dari Ki Ageng Wonosobo yang dimakamkan di Desa Plobangan Kecamatan Selomerto ini perlu ditelaah lagi dengan seksama. Beberapa waktu lalu konon pihak Keraton Jogjakarta sudah memasukkan makam ini dalam salah satu situs Punden Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Wallahu Alam (Bimo Sasongko / www.jatiningjati.com)

Read More......

Selasa, 07 Juni 2016

“SEDIKIT” MEMBUKA SEJARAH PERJUANGAN WONOSOBO

Hari Senin Pahing Pukul 08.00 pagi Tanggal 20 Desember 1948, sehari setelah bombardemen Yogyakarta, Kota Wonosobo mendapat serangan dari udara yang dilakukan oleh Belanda dengan mengerahkan empat pesawat B-29 dan dua pesawat capung.Mereka menyerang dengan semena-mena memuntahkan peluru dan menjatuhkan bom secara membabi-buta hingga Kota Wonosobo luluh lantak. 

Mereka menembaki dari udara toko-toko disepanjang Pasar Wonosobo, memberondong Pendopo Kabupaten dan sekitarnya termasuk Gereja St. Paulus, rumah-rumah penduduk di Kampung Longkrang, Semagung, Mangli, dan masih banyak lainnya. Penembakan bertubi-tubi juga dilakukan pada rumah-rumah di sepanjang Jl. Bismo, Kampung Kauman dan Sumberan, yang saat itu berbarengan waktunya dengan bergeraknya Pasukan Siliwangi menuju Jawa Barat setelah beristirahat semalam di Wonosobo. 

Selain itu Pesanggrahan Selomanik dan Kompleks Dena Upakara juga tidak luput dari incaran serangan udara Belanda karena dikira masih digunakan sebagai markas Tentara Indonesia. Markas Komando Ketentaraan dan Kegiatan Pemuda yang sekarang berdiri Perpustakaan Wonosobo juga dibombardir dari udara. Keesokan harinya Tentara darat Belanda memasuki Kota Wonosobo dengan tank-tank dan mobil-mobil baja mengira bahwa Republik Indonesia dalam sekejab telah dikalahkan. Namun Tanggal 21 Desember 1948 Pemerintahan Sipil dan Komando-Komando Distrik Militer di Wonosobo telah berada di Dukuh Sribit kemudian menempuh serangkaian perjalanan panjang dengan mengatur pemerintahan dan siasat operasional militer. 

Bupati Kepala Daerah pada waktu itu adalah R.Soemindro dan Komando Militer dipimpin oleh Mayor Kardjono. Operasi militer yang dilakukan oleh TNI, Masyarakat,dan Pemuda terus dilakukan seperti pendadakan, penyergapan, ataupun penghadangan seperti yang dilakukan di Banaran, Pringapus, Reco, Kapencar, Wediasin, Kaliwiro, sepanjang jalan Selokromo-Tunggoro, dan sekitar perbatasan Kabupaten Wonosobo – Temanggung. Secara hakekatnya Pasukan Belanda hanya mampu menguasai Kota Wonosobo, Kertek, Sapuran, dan Sawangan akibat perlawanan dan perang gerilya para pejuang Indonesia. 

Dalam kondisi perlawanan sengit itu, Pasukan Belanda juga terus melakukan serangan udara di beberapa tempat dan juga mengadakan operasi militer untuk melumpuhkan TNI seperti di Mungkung ,Balekambang, dan Semayu. Desa Perboto mendapat hajaran patroli Belanda sehingga menewaskan 41 orang penduduk desa. Selanjutnya keganasan Pasukan Belanda berlanjut di Desa Jetis dan Garung dengan membakar rumah-rumah penduduk. Di Desa Mlandi satu orang anak petani tewas ditembak ketika berladang. Sedangkan Pasukan Belanda memasang ranjau di Mata Air Mudal sehingga mencelakakan warga setempat. Di Desa Lipursari dan Selokromo serdadu Belanda melakukan penggledahan rumah-rumah secara masal dan membakar Rumah Lurah serta balai desa kedua wilayah tersebut. 

Tanggal 18 Oktober 1949 Kota Wonosobo kembali ke tangan Ibu Pertiwi dengan diserahkannya Kota Wonosobo kepada Republik Indonesia oleh Belanda. Kabupaten Wonosobo merupakan wilayah ke-2 setelah Yogyakarta yang diserahkan Belanda kepada Republik Indonesia.Suasana heroik dan khidmat terjadi ketika Jam 10.00 pagi pasukan TNI memasuki kota dan segera mengadakan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di halaman depan Hotel Dieng ( sekarang Hotel Kresna). Dengan adanya peristiwa ini pada waktu itu nama Hotel Dieng diganti dengan nama Hotel Merdeka. Tanggal 20 Oktober 1949 rombongan Pemerintah Sipil dikawal oleh satuan-satuan gerilya dengan dielu-elukan masyarakat Wonosobo ,memasuki kota dan dengan haru memasuki Pendopo Kabupaten yang tinggal terlihat lantai akibat hancur karena dampak perang. 

Sumber : Rangkuman Buku Monumen Perjuangan Kemerdekaan Kab. Wonosobo 1984.

Read More......

Kamis, 28 Agustus 2014

KYAI KARIM DAN KI TUNTENG : Legenda Sejarah Daerah Longkrang, Kenteng, dan Mangli

Kyai Karim dipercaya sebagai tokoh penting dalam perkembangan wilayah Wonosobo di waktu silam. Konon bersama keluarganya beliau bermukim di Bukit Lowoidjo atau berada di wilayah Desa Kejiwan sekarang . Pada waktu itu menurut kepercayaan bahwa terdapat telaga di dekat pemukiman Kyai Karim dan brayat yang terletak longkange (diantara) dua puntuk yang bernama Logandeng dan Bugangan.

Karena letak telaga yang berdekatan dengan tempat kediaman Kyai Karim, maka untuk keperluan rumah tangga setiap hari Kyai Karim menyuruh istri serta anak-cucunya mengambil air dan mandi di telaga itu. Pada waktu itu perintah yang setiap kali diberikan Kyai Karim pada keluarganya adalah : “jupuka banyu lan adusa ing kali Longkang kono” . Dari kata-kata yang sering kali terdengar diucapkan oleh Sang Kyai, maka dinamakanlah telaga tersebut Telaga Longkang.Setelah beberapa waktu berjalan nama itu masih digunakan oleh penduduk dan penghuni sekitarnya. Sekarang ini kata “Longkang” berubah pengucapannya menjadi “Longkrang” . 

Keluarga Kyai Karim terus bertambah seiring semakin banyaknya pendatang yang mengakibatkan jumlah penduduk semakin meningkat. Kebutuhan bahan makanan yang terus bertambah mengakibatkan tanah ladang untuk menanam padi atau hasil bumi lain semakin terbatas. Maka melihat kondisi tersebut Putera Sulung Kyai Karim yang bernama Ki Tunteng, berusaha untuk mendapatkan tanah subur, guna menambah hasil bahan makanan yang diperlukan. Dengan mendapat ilham dari Allah SWT, maka kedua bukit (puntuk) dikedua sisi telaga digugurkan oleh Ki Tunteng, dan kemudian tanah dari bukit-bukit tersebut digunakannya untuk menimbuni telaga itu sehingga telaga akhirnya berubah menjadi ladang yang menghasilkan. 

Setelah Kyai Karim wafat, Ki Tunteng pergi menyepi menjauhkan diri dari keramain dan keluarganya . Ia menetap di dataran yang cukup tinggi dan bekerja serta bersemedi setiap hari . Pekerjaannya adalah membuat pusaka dan dikenal sebagai orang yang sakti sehingga namanya semakin dihormati. Orang berkata : “Nyoto Pancen empu kang kenteng !”, (memang benar-benar empu yang sakti) dan sejak itu masyarakat menamakan tempat Putera Sulung Kyai Karim itu : Kentengan . Hingga sekarang tempat tersebut dinamakan orang “Kenteng” . Kata kentengan berubah ucapan menjadi kenteng . Ki Tunteng dikenal juga menciptakan pusaka wesi aji dengan pamor di atas ganjanya yang berlukiskan gunung bertumpuk, sebagai suatu isyarat bahwa barang siapa memiliki pusaka itu tiada akan sukar dalam perjalanan hidupnya untuk mendapatkan rezeki secukupnya dengan isin Allah SWT. Orang menamakan pusaka itu Ki Djalak Sangu Tumpeng. 

Ki Tunteng semasa hidupnya sering mensucikan diri dengan bermandi di sungai sebelah Barat tempat tinggalnya yang merupakan lembah. Ditempat inilah banyak orang sering datang dan menyambut Ki Tunteng. Secara bercanda Ki Empu sering berkata kepada orang-orang itu : “ Arep adus wae semang ngili ! “ (Mau mandi saja harus ke sungai). Memang pada masa itu telaga di sekitar Logandeng dan Bugangan yang tadinya digunakan orang untuk mandi dan mengambil air telah diubah menjadi ladang dan sawah oleh Ki Tunteng . Tempat bersuci Ki Tunteng ini akhirnya menjadi tempat mandi penduduk sekitar. Demikianlah maka tempat pemandian baru tersebut dinamakan Mangli, asal dari kata-kata semang dan ngili.

Read More......

Kamis, 14 Agustus 2014

SEMAR ATAU AJISAKA ? Pertapaan Terakhir di Telaga Warna Dieng


Kyai Lurah Semar Badranaya adalah tokoh legendaris pewayangan Jawa dan Sunda. Dalam cerita versi India dengan Berbahasa Sansekerta, tokoh Semar tidak dikenal.Tokoh ini sering muncul sebagai pamomong para satria yang berada dalam kebenaran pada cerita Mahabarata dan Ramayana versi Jawa.

 Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun.

Pertapaan Terakhir Semar di Telaga Warna Dieng

Namun ditengah masyarakat Jawa khususnya, tokoh Semar merupakan sosok yang riil dan sampai sekarang masih hidup dalam rangka mengawal kehidupan manusia di Tanah Jawa. Semar menjadi tokoh sentral kebijaksanaan dan pelindung terutama pada filsafat-filsafat kepemimpinan. Banyak orang percaya bahwa Semar akan hadir dan membantu kepada para pemimpin atau manusia berbudi luhur yang mampu membawa kepada kesejahteraan dan keadilan.

Oleh Masyarakat Wonosobo, Semar dipercaya pernah bertapa di Pegunungan Dieng yaitu di Gua Semar sebelah Telaga Warna Dieng Kabupaten Wonosobo. Lokasi itu dipercaya sebagai istana terakhir Mandala Sari alias Semar. Di sanalah Semar bersemadi abadi setelah sering bertapa di berbagai tempat.

Kepercayaan keberadaan Semar di Dieng inilah yang mungkin membawa Gua Semar menjadi tempat yang disakralkan sehingga banyak raja-raja Jawa dan pemimpin bangsa ini konon pernah berziarah dan bermeditasi di sana. Sifat Semar yang bijaksana dan mengayomi bisa jadi memberikan intuisi yang kuat kepada orang-orang yang bermeditasi di sana sehingga dapat tertempa batin dan jasmaninya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Apakah Semar Adalah Manivesto Dari Aji Saka?

Dari beberapa sumber , muncul telaah baru dari pribadi Semar yang dinyatakan sebagai panutan hidup yang memberikan tuntunan keselamatan hidup. Aliran ini memaknai bahwa Semar adalah tokoh asli Jawa yang keberaadaannya lebih lama dari masuknya Agama Hindu dan Budha di Nusantara. Semar telah memberikan pondasi yang kuat untuk masyarakat Jawa di masa lampau untuk menyembah Tuhan.Sebagai cikal orang Jawa, Semar dianggap telah memberikan konsep sastra awal untuk dapat memberikan pelajaran pada manusia Jawa. Konsep huruf Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka akhirnya menurut pendekatan ini diyakini sebagai karya Ki Semar Badranaya.

Menurut Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Menurut Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan oleh Semar. Maka dengan logika ini maka bisa dikatakan pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

Selama ini huruf Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka dipercaya adalah karya Aji Saka yang terkenal karena epos gugurnya dua orang abdinya demi mempertahankan amanah yang mereka terima. Dengan adanya pendekatan baru bahwa Semar adalah pencipta Ha-Na-Ca-Ra-Ka, maka akan muncul pertanyaan siapakah “yang benar” menciptakan akasara Jawa. Akan lebih dalam lagi jika muncul pemikiran apakah Semar adalah Aji Saka itu sendiri?

Adanya cerita Aji Saka yang mendorong Prabu Dewata Cengkar ke Laut Selatan menunjukan bahwa lokasi Istana Aji Saka berada di pesisir Pulau Jawa dan setelah tidak berkuasa lagi mungkin Aji Saka pergi ke pedalaman dan bertapa di Pegunungan Dieng? Tentunya perlu kehati-hatian dalam menarik hipotesa legenda ini karena bagaimanapun tidak ada bukti konkret walaupun hanya berupa mythe. Namun jika berandai-andai bahwa Semar adalah Aji Saka, dan kemudian bertapa dan moksa di Dieng, tentunya peradaban di wilayah Dieng dan derah sekitarnya sudah ada sejak dahulu sekali,bahkan mungkin sebelum masehi.Wallahu Alam.



Daftar Referensi :

Read More......

Selasa, 04 Februari 2014

KEHANCURAN WONOSOBO TAHUN 1925 : LEBIH DARI 1000 ORANG MENINGGAL

Sangat sedikit masyarakat Wonosobo dan peminat sejarah yang mengetahui kejadian yang sangat memilukan dan menjadi Top News di era Hindia Belanda Tahun 1924 – 1925. Alam Wonosobo yang selama ini dikenal ramah dengan penduduknya, luluh lantak akibat gempa di Tahun 1924.  



Dalam sebuah terbitan Majalah Lama Berbahasa Belanda “Indie” yang terbit pada Tanggal 7 Januari Tahun 1925, disebutkan secara dramatis kejadian bencana gempa di Wonosobo kurang lebih sebagai berikut : “Wilayah Wonosobo di Hindia Belanda dikejutkan oleh teriakan melengking kesakitan dari masyarakat yang semula hidup bahagia berubah menjadi kemalangan , kesusahan dan kemiskinan . Dalam beberapa hari dan beberapa malam semua yang mereka miliki dan sayangi , hilang, sehingga kesedihan dan keputusasaan telah mencengkeram hati mereka ,Di daerah padat penduduk , cengkeraman bencana alam tanpa henti. Rumah hancur , ternak mati dan melarikan diri , hingga celah-celah akibat bencana menelan manusia, hewan, dan desa. Kampung atau jurang runtuh secara ajaib dikepung oleh gempa bumi dalam hitungan detik , sementara banjir melanda. Pemandangan daerah yang padat bangunan rusak. Ya , saat kita menulis ini , itu sudah dihitung lebih dari seribu orang mati. “


Bangunan di masa kolonial yang nyaris runtuh di WonosoboTahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand) 


Dramatisasi kejadian gempa di Wonosobo ini sebenarnya tidaklah berlebihan, salah seorang politisi Hindia Belanda Mr Wijnkoops dalam rapat interpelasi Pemerintah Hindia Belanda pertemuan ke 39 Tanggal 17 Desember 1924, menyatakan dalam sela orasi politiknya : “Saya ingin berbicara tentang bencana yang terjadi di Wonosobo yang saat ini menjadi bahan pembicaraan , dengan gempa bumi yang mengerikan kawasan yang indah di bagian dari Jawa Tengah ini telah hancur . Saya mengucapkan bela sungkawa dan berusaha memberikan suatu yang lebih untuk daerah yang indah tersebut. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi disana.” 



Rumah penduduk di Wonosobo yang ambruk karena gempa Tahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand) 

Gempa terjadi dimulai pada hari Minggu 9 November 1924. Terdapat 5 guncangan dimana 3 guncangan terasa begitu keras sehingga penduduk yang mempunyai rumah yang terbuat dari batu meninggalkan tempat. Rabu, 12 November 1924 terasa dua guncangan kuat di sore hari yang menyebabkan kerusakan sangat serius. Gempa berlangsung 10 menit dengan guncangan yang keras dan bergelombang dari arah utara disertai suara yang bergemuruh . Minggu, 16 November 1924 gempa kembali mengguncang cukup kuat . Pusat gempa , 4 KM BL dari pusat Kota Wonosobo , telah menyebabkan fragmentasi dan pergeseran lapisan tanah. 

Beberapa daerah yang disebut terkena dampak terparah adalah kampung Kali Tiloe, Pagetan, Salam, dan Larang yang terseret runtuhnya tanah. Sedangkan dampaknya mencapai daerah Wonoroto dari utara ke selatan dari pusat gempa. Banyak kampung mengalami kerusakan yang sangat parah (Indie, hlm 331). Lalu apakah yang menyebabkan gempa mengerikan ini? Pada waktu itu tidak ada aktifitas vulkanik yang terekam. Getaran gempa ini murni gempa tektonik. Banyaknya tanah yang bergerak dalam gempa ini adalah hasil dari situasi geologi yang aneh . Kondisi ini diperparah dengan adanya lumpur yang masuk ke Sungai Serajou (Serayu) dan Sungai Prengae (?) akibat gempa dan hujan lebat yang turun sedemikian besar pada waktu itu, membuat air menaik dan menimbulkan banjir besar yang menghancurkan banyak jembatan sehingga Wonosobo terputus jalur komunikasi dan transportasi. Begitu dasyatnya penderitaan penduduk Wonosobo pada saat itu yang sebelumnya telah didera kemiskinan akibat kolonialisme ditambah dengan deraan gempa dan banjir besar yang mengikutinya. 


Sebuah bukit di Wonosobo yang runtuh karena pergeseran tanah akibat gempa bumi Tahun 1925 (foto : Tropen Museum Holand)

Gempa yang terjadi tidak hanya menghancurkan wilayah pedesaan saja namun juga meluluh lantakan bangunan-bangunan kokoh di pusat kota. Beberapa bangunan kolonial ambruk bahkan Hotel Dieng (Hotel Kresna sekarang) hancur. Beberapa bangunan lain yang masih berdiri mengalami kerusakan yang sangat parah. 

Hotel Dieng (Hotel Kresna sekarang) mengalami kerusakan berat akibat gempa Tahun 1925. (foto : Tropen Museum Holand) 

Bantuan dari berbagai pihak mengalir ke Wonosobo setidaknya ini dibuktikan dengan adanya salah satu pagelaran tinju di Surabaya pada Tanggal 4 Januari 1925 yang disponsori oleh warga keturunan Tionghoa dimana hasil penjualan tiket disumbangkan untuk korban gempa bumi di Wonosobo (A.S. Marcus,2002). Kejadian gempa yang menghancurkan memang telah lama berlalu. Seiring dengan lajunya jaman, cerita dan sejarah tentang kejadian ini seperti hilang tidak berbekas. Namun dengan terangkat kembali cerita sejarah yang hilang ini diharapkan masyarakat Wonosobo yang hidup di era modern ini untuk kembali berintrospeksi mengukur bagaiman kita bersyukur dan lebih bersahabat dengan alam. Semoga tidak terjadi bencana yang mematikan seperti Tahun 1925 di jaman modern ini. (Penelitian literatur oleh Bimo Sasongko - Staf Perpustakaan Kab. Wonosobo) Jatiningjati.com

Daftar Pustaka :
Indie, Eillustreerd Indschrift Voor Nederland En Kolonien , N.V. Boekhandel En Drukkerij G. Kolff & Co., Weltevreden, Nederlandsch Oost-Indie: No. 21 7 Januari 1925 PERTEMUAN ke-39. - 17 Desember 1924. 4. 

Adopsi Anggaran SCH Hindia Belanda sebelum 1925. - Interpelasi "Wijnkoops. http://resourcessgd.kb.nl/SGD/19241925/PDF/SGD_19241925_0000006.pdf 

De Aardbevingen van Wonosobo op 12 November en 2 December 1924. Door Ir. N.J.M. Taverne. En De Aardbeving van Maos op 15 Mei 1923. 

Door Dr. Ch. E. Stehn. A.S. Marcus, Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1,2002, Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.

Foto : Troppen Museum Holand

Read More......

Senin, 11 November 2013

WACANA DI AWANG_AWANG (Free E Book)

Sebuah karya yang mungkin sangat tidak berarti yang dibuat hanya untuk menjadi sebuah monumen mimpi indah dengan bumbu kata “jikalau” atau “kalau saja”. Wacana adalah ide di awang-awang dimana setiap orang dengan mudah melontarkannya namun biasanya sulit dilaksanakan walaupun yang melaksanakan adalah “penemu” wacana awal.


Embel-embel untuk mensejahterakan Rakyat Wonosobo menjadi salah satu pelengkap karya ini untuk mengunggah hal-hal klasik dalam jargon-jargon disetiap suasana pembahasan orang-orang berwacana. Agar seperti terlihat intelek dan pro rakyat Dari semua skeptisme, harapan kecil adalah karya wacana ini dapat dipakai oleh orang-orang yang sederhana dan mau bekerja untuk rakyat (kalau masih ada) dengan demikian kaisan pahala ilmu dapat diraih penulis walau satu dua tetes.
Silakan down load di link ini : WACANA DI AWANG-AWANG

Read More......

LEGENDA WONOSOBO (Free E. Book)

Wonosobo bagaikan sebuah wilayah yang miskin akan data sejarah. Sebegitu banyak peninggalan bersejarah yang terserak namun tlatah ini seperti amnesia dengan siapa dirinya. Kumpulan legenda ini dibuat untuk membangkitkan kebali memori Wonosobo sebagai daerah yang mempunyai
sejarah panjang. Jauh lebih tua dari klaim umurnya .
Dengan adanya banyak legenda yang mulai terkuak maka diharapkan tumbuh semangat dari para putra daerahnya untuk mulai lebih menguri-uri sejarah dan budayanya. Kumpulan legenda ini merupakan kumpulan tulisan dari Lis Retno Wibowo Jawa Pos Radar Semarang yang telah pernah di “publish” di Jawa Pos (2006-2008). Ditambah tulisan dari Dwi Putranto Bimo Sasongko yang telah di up load di www.jatiningjati.com. Berharap semoga bermanfaat dunia akherat sebagai sedekah ilmu dari kami.
Klik Link ini untu down load bukunya : Legenda Wonosobo

Read More......

Sabtu, 19 Oktober 2013

Free E Book "Mr. Moch Dalijono : Pejuang Demokrasi Yang Terlupa"

Menyusun biografi seorang tokoh tidak lepas dari sebuah konsep fakta sejarah hidupnya dan subyektifitas dari sang penyusunnya. Pada penulisan biografi Mr. Moch. Dalijono : Pejuang Demokrasi Yang Terlupa, penyusun berusaha meminimalkan subyektifitas dan mengetengahkan fakta dari banyak sumber.

Memang diakui sangat sulit membuat biografi tokoh salah seorang pembangun pondasi bangsa ini dikarenakan sedikitnya literatur sejarah yang diketemukan. Mr. Moch. Dalijono adalah salah satu tokoh Masyumi.Menyitir pendapata Mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Izha Mahendra yang menyiratkan adanya diskriminasi dan tekanan politik pada era Orde Baru pada tokoh-tokoh nasional dari Masyumi sehingga banyak catatan sejarah di era tersebut menjadi sangat minim. Namun setidaknya sejimpit fakta yang diketemukan dan ditulis dalam buku ini dapat memberikan gambaran riil perang penting Mr. Moch Dalijono dalam percaturan politik era kemerdekaan dan era orde baru.
Silakan down load bukunya di link ini gratis :
BUKU Mr. MOCH. DALIJONO : PEJUANG DEMOKRASI YANG TERLUPA

Read More......

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO