Rabu, 31 Oktober 2018

DUA GEMPA DASYAT DI WONOSOBO YANG TERCATAT DALAM SEJARAH GEMPA DUNIA

Dalam buku International Handbook of Eartquake & Engineering Seismology Part 1 di Tabel 1 tercatat bahwa gempa di Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah yang tercatat pada sejarah gempa bumi dunia adalah yang terjadi pada Tanggal 12 Nopember 1924 dan 2 Desember Tahun 1924. Gempa yang terjadi pada Tanggal 12 Nopember 1924 menimbulkan korban jiwa sebanyak 609 orang dengan pusat gempa pada koordinat -7.2 , 109.5 atau di Mundong Kabupaten Pemalang. Sedangkan gempa yang terjadi pada Tanggal 2 Desember 1924 pusat gempa pada koordinat -7.3 , 109.9 atau di Desa Tegalsari Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo. 

Posisi titik pusat gempa di Wilayah Desa Tegalsari Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo yang terjadi pada Tanggal 2 Desember 1924 hanya berjarak 500 meter dari Desa Tegalsari sekarang dan berjarak kurang lebih 8 km dari pusat Kota Wonosobo. Apabila ditarik garis lurus dari pusat gempa yang terjadi pada Tanggal 12 Nopember 1924 di wilayah Mundong Kabupaten Pemalang berjarak 45 km ke arah sekitar Barat Laut. Yang menarik di sini adalah walaupun episentrum gempa berjarak cukup jauh namun dampak gempa terbesar dari Episentrum Mundong tetap berada di wilayah Wonosobo.

Kekuatan ke dua gempa tersebut menurut buku World Data Center A for Solid Earth Geophysics yang diterbitkan oleh US Departemen of Commerce National Oceanic and Atmospheric administration pada Tahun 1992, masuk kedalam kategori gempa besar yang tercatat dalam sejarah sejak Tahun 2150 SM. Ukuran kekuatan gempa yang terjadi Tanggal 2 Desember 1924 tercatat berkekuatan 9 MMI. Sedangkan menurut Kartono Tjandra dalam buku “Empat Bencana Geologi Yang Paling Mematikan” terbitan Gajah Mada University Pers Tahun 2017 ,gempa pada Tanggal 12 Nopember 1924 tercatat 7,6 Skala Richter. Pengukuran satuan kekuatan gempa memang mempunyai dua ukuran yaitu MMI dan Scala Richter. 

Satuan MMI atau Skala Mercalli menurut situs www.bmkg.go.id adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia yang bernama Giuseppe Mercalli pada Tahun 1902. Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan juga dengan melihat serta membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Satuan MMI dipergunakan jika wilayah gempa tidak terdapat seismograf (alat pengukur gempa dengan ukuran Scala Richter). Untuk ukuran gempa berkekuatan 9 MMI yang terjadi pada Tanggal 2 Desember 1924 dapat digambarkan situasinya adalah kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak, rumah tampak agak berpindah dari pondamennya, dan pipa-pipa dalam rumah putus. 

Menurut buku Southeast Asia Association of Seismology and Eartquake Enginering Series On Seismology Volume V yang diterbitkan pada Tahun 1985 oleh U.S. Geological Survey, disebutkan bahwa pada gempa yang terjadi pada Tanggal 2 Desember 1924 dengan episentrum di wilayah Desa Tegalsari Kabupaten Wonosobo dimulai dengan guncangan keras yang merusak bangunan di wilayah Wonosobo dan juga di luar Wonosobo di ikuti dengan pergerakan tanah yang menimbulkan kerusakan besar di beberapa desa. Bangunan yang terbuat dari batu banyak yang runtuh dan menurut data menelan korban jiwa sebanyak 727 orang dan tercatat 2250 rumah ambruk dengan kerugian sekitar 61 ribu gulden. 

 Kemudian cuplikan berita berjudul “Long Earthquake Kills 300 on Island of Java” yang diambil dari “The Cornell Daily Sun, Volume XLV, Number 46, 14 November 1924” menyatakan bahwa Jawa telah mengalami gempa bumi yang sangat parah. Dilaporkan banyak warga yang tewas dan hilang. Gempa bumi terjadi pada hari Rabu dan masih sering terasa di hari-hari berikutnya. Banyak Kota-Kota pribumi di Kedu dihancurkan oleh tanah longsor. Satu desa benar-benar hilang ke sungai. Pusat gempa di Wonosobo di mana semua bangunan runtuh.

Berita tentang gempa di Wonosobo Tahun 1924 juga muncul di berita-berita luar negeri pada waktu itu antara lain Koran “The Morning Republican”, Koran “Marshal Evening Chronicle”, Koran “Atlanta Constitution”, Koran “ Bidderford Daily Journal”,dan Koran “Daily Times Enterpise”. Dari cuplikan berita tersebut dapat diambil pendapat bahwa gempa yang terjadi di Bulan November 1924 merupakan rangkaian gempa yang apabila dirangkai dengan literasi yang lain terus berlanjut sampai dengan Desember 1924 (Gempa Kembar). Kerusakan tidak hanya merusak wilayah Wonosobo namun juga wilayah Kedu .Terdapat multi bencana dari efek gempa Tahun 1924 tersebut yaitu gempa bumi, tanah longsor, tanah bergerak, dan juga banjir Sungai Serayu. Banjir Sungai Serayu ini diakibatkan oleh banyaknya longsor dan tanah bergerak sehingga menutup jalur sungai hingga meluap. Hal ini berdasarkan adanya berita bahwa terdapat satu desa yang hilang disebabkan tanah bergerak yang membawa semua yang ada diatasnya meluncur ke Sungai Serayu. Koran “Bidderford Daily Jurnal” menceritakan bahwa Wonosobo setelah gempa dikepung oleh banjir. 

Hal yang kurang lebih sama yang medukung berita di atas adalah tulisan di Majalah Berbahasa Belanda “Indie” yang terbit pada tanggal 7 Januari tahun 1925 yang menyatakan Gempa terjadi dimulai pada hari Minggu 9 November 1924. Terdapat 5 guncangan dimana 3 guncangan terasa begitu keras sehingga penduduk yang mempunyai rumah yang terbuat dari batu meninggalkan tempat. Rabu, 12 November 1924 terasa dua guncangan kuat di sore hari yang menyebabkan kerusakan sangat serius. Gempa berlangsung 10 menit dengan guncangan yang keras dan bergelombang dari arah utara disertai suara yang bergemuruh . Minggu, 16 November 1924 gempa kembali mengguncang cukup kuat . Pusat gempa , 4 KM BL dari pusat Kota Wonosobo, telah menyebabkan fragmentasi dan pergeseran lapisan tanah.

Read More......

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO