Senin, 10 Oktober 2011

Ki Ageng Enis, Ulama Alim, Eyang Dari Raja-Raja Mataram

Saat ini sangat jarang generasi muda kita mengenal tokoh bernama Ki Ageng Enis ini. Bahkan masyarakat di mana beliau pernah hidup ,banyak yang tidak paham di mana letak makam beliau. Jika diberikan petunjuk makam yang terletak di Masjid Laweyan ( Ada yang menyebut Langgar Merdeka ? ) Masjid tertua di Kota Solo, orang masih mengernyitkan dahi karena Masjid tertua itupun tidak dikenal oleh sebagian masyarakat Solo. Padahal sejarah Kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal “Tree Kingdom” yaitu Kasunan, Mangkunegaran, dan Ngayogyakarto Hadiningrat bermula dari Ki Ageng Enis.
Ki Ageng Enis adalah keturunan langsung atau putra bungsu dari Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo sendiri terkenal dengan legenda menangkap petirnya yang masih sering kita dengar di cerita rakyat. Ki Ageng Enis dikenal sebagai ulama pada jamannya. Beliau mengabdi kepada Sultan Pajang Hadiwijoyo (Joko Tingkir) dan diberikan tanah perdikan di Laweyan yang kemudian menjadi cikal Masjid Laweyan.

Masjid Laweyan sendiri konon dahulu merupakan sebuah Pura Agama Hindu milik Ki Ageng Beluk. Laweyan pada era Kerajaan Pajang masih dihuni oleh mayoritas warga beragama Hindu. Setelah sekian waktu  Ki Ageng Enis tinggal di Laweyan, Ki Ageng Beluk tertarik masuk Islam dan menyerahkan Pura-nya untuk dijadikan masjid. Jadilah wilayah Masjid Laweyan ini menjadi pusat penyebaran Agama Islam pada waktu itu.

Panembahan Senopati Raja Mataram Islam pertama, ketika kecil hidup di Laweyan yaitu di Kampung Lor Pasar sehingga beliau sering disebut dengan Mas Ngabehi Loring Pasar. Lalu apakah Panembahan Senopati dan Ki Ageng Enis hidup dalam jaman yang sama? Jawabannya adalah benar, karena Panembahan Senopati adalah Putra dari Ki Ageng Pemanahan  dan cucu dari Ki Ageng Enis. Konon kesaktian dan ilmu agama Panembahan Senopati atau Danang Sutowijoyo adalah hasil dari didikan Ki Ageng Enis yang karena kesaktiannya mendapat julukan Ki Ageng Luwih. Luwih dalam hal ini bermakna linuwih atau sangat sakti. Ki Ageng Enis sangat dihormati oleh masyarakatnya karena selain mempunyai kesaktian tinggi juga dikenal sebagai ulama yang alim. Masa hidupnya dihabiskan di masjid untuk beribadah.

Ketika terjadi pemberontakan Raden Mas Garendi terhadap Pakubuwono II, Masjid Laweyan menjadi tempat pelarian Pakubuwono II dan sekaligus menjadi tempat tirakat beliau memohon kepada Allah SWT untuk dapat merebut Kartosuro kembali. Ketika pemberontakan bisa dipadamkan, Pakubuwono II membuat gerbang khusus untuk dilalui beliau jika akan berziarah ke Makam Ki Ageng Enis. Namun gerbang ini hanya dipakai satu kali karena satu tahun setelah pembuatannya Pakubuwono II meninggal. Jenazahnya dimakamkan di komplek makam Ki Ageng Enis maka komplek makam ini sering disebut dengan Astana Laweyan. Beberapa waktu kemudian makam Pakubuwono II dipindahkan di Pajimatan Makam Raja Mataram Imogiri.

Jika berziarah di Laweyan , lokasinya dekat dengan Kampung Batik Laweyan dan Museum Samanhudi. Makam terletak disebelah Masjid Laweyan. Untuk masuk ke dalam sebaiknya lewat juru kunci makam karena  komplek mempunyai tiga gerbang dimana gerbang ke-dua biasanya terkunci. Komplek makam Astana Laweyan ini merupkan komplek makam tua yang sudah berumur 500 tahun lebih. Di sekitar makam terdapat pohon-pohon yang disebut pohon nagasari yang bermakna sebagai pelindung makam (dijaga oleh para naga). Makam yang bersebelahan langsung dengan makam Ki Ageng Enis adalah Nyi Ageng Pandanaran dan Nyi Ageng Pati.Ki Ageng Enis diperkirakan berdakwah pada sekitar Tahun 1550 M sampai dengan Tahun 1600-an masehi. Beliau masih keturunan dari Brawijaya V Raja Majapahit terakhir. Dalam cerita rakyat setempat konon kerangka dan mahkota Brawijaya V ikut dikuburkan dalam satu liang di Makam Ki Ageng Enis.Wallahualam.(jatiningjati.com)

Read More......

Selasa, 21 Juni 2011

Sirah Nogo Bundet : Bicara pendidikan??, pokoknya kamu bodoh! Titik

Menyitir legenda perancis three musketeer yang terkenal dengan semboyannya one for all, all for one, dalam sistem pendidikan kita hampir sama menggunakan semboyan itu yaitu satu mata pelajaran bisa untuk semua dan semua harus bisa seluruh mata pelajaran. Hal ini semestinya mendapat perhatian bagi para pemerhati padepokan pendidikan dikarenakan tuntutan kita terhadap anak bangsa ini terlalu tinggi yaitu anak harus bisa semua ilmu. Memang gen ras manusia , yaitu gen Nabi Adam yang mampu menghafal semua ciptaan Tuhan, ada dalam tubuh kita. Namun sepertinya waktu puluhan bahkan ratusan ribu tahun sampai di waktu sekarang ini, gen itu bisa jadi sudah bermutasi sedemikian banyak ,terutama dibidang kecerdasan manusia. Wallahu alam.

Sangat disayangkan sistematika pendidikan yang kita anut saat ini masih belum memungkinkan anak-anak kita untuk dapat memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan bakatnya. Jika anak kita sangat menyukai matematika dan berprestasi di bidang itu , maka anak harus mau-tidak mau tetap mempelajari mata pelajaran lain dengan kapasitas yang sama.

Sangat sulit mengatakan bahwa seorang anak dikatakan tidak berprestasi karena mendapat nilai 5 pada mata pelajaran matematika sedangkan dalam mata pelajaran sbk (kesenian) dia mampu menggambar dengan sangat bagus. Atau sulit mengatakan bodoh kepada siswa yang memperoleh nilai 5 pada bahasa jawa sedangkan mendapat nilai 9 atau 10 pada bahasa asing. Belum lagi banyak siswa yang nilai akademik-nya rendah namun berprestasi di bidang olah raga,sains teknologi, maupun keagamaan.

Sistem seperti sekarang ini mengakibatkan siswa tidak akan pernah maksimal dalam menguasai bidang atau ilmu yang dia kuasai. Sebagai perumpamaan, seorang anak pandai dalam meng otak-atik komputer sehingga dia menguasai teknologi informasi dengan baik, kreatif dalam membuat blog,dan lain sebagainya. Tetapi disekolah mendapat angka 5 di mata pelajaran matematika sehingga sekolah ”mengancam” si anak jika nilainya masih seperti itu maka tidak akan naik. Hal ini diperparah dengan kepanikan orang tua yang langsung memvonis anaknya malas dan bodoh, sehingga perlu di les-kan ini itu. Lebih buruk lagi si anak tidak boleh lagi menggunakan komputer sebagai hukuman dan agar fokus kepada pelajaran. Wah hebat sekali budaya pendidikan di nagari ini?.

Bagaimana kita dapat memperoleh SDM yang siap pakai, profesional , ber-ilmu yang khatam? Semua akan serba setengah-setengah. Sebuah kerugian yang luar biasa besar bagi nagari ini.

Mungkin perlu adanya studi ke nagari-nagari yang tinggi tingkat human development index atau menelaah pendidikan yang menyatukan adat budaya dan modernitas. Perlu keberanian dari para pemegang kebijakan untuk mereformasi pendidikan kita menjadi lebih baik, mohon maaf tidak hanya berpikir bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan dihitung dari berapa besarnya penyerapan anggaran.

Masih percaya dan berharap bahwa pada suatu saat nanti ada ”satriyo piningit” yang benar-benar mereformasi pendidikan sedemikian rupa sehingga pendidikan benar-benar bernafaskan pendidikan (bukan berdasarkan ego sang empu / adipati/ tukang ingsinyur / paranormal ,etc) dan diperuntukkan kepada daripadanya rakyat.

Kata ”pokoknya kamu bodoh! Titik” mungkin lebih cocok untuk Ki Sirah Nogo Bundet saja. Untuk para generasi platinum mendatang tidak. Cukup kami saja yang menyerap cap bodoh dari banyak orang. Semoga keterwakilan ini cukup.

Read More......

Minggu, 20 Februari 2011

Tirtodongso I Empu Pembuat Keris Pada Jaman Pakubuwono VII

Dituturkan oleh para sesepuh, Eyang Tirtodongso itu adalah seorang Empu yang bekerja pada Kerajaan Kartosuro pada sekitar tahun 1700. Empu itu adalah seorang yang ahli dibidang tertentu, disini keahliannya adalah dalam membuat keris, senjata atau alat perang lainnya. Beliau adalah keturunan dari Empu Supo, salah seorang Empu terkenal yang mengabdi pada Kerajaan Prabu Brawijaya V di Majapahit. Empu Supo yang masa kecilnya bernama Joko Supo,disebutkan adalah putra Tumenggung Supardya, Wedana dalem kerajaan Majapahit, yang juga adalah seorang Empu dikala itu.

Empu Supo adalah murid Ki Sunan Kalijogo dan juga Ipar dari Beliau karena Empu Supo memperistri adik Beliau yang bernama Dewi Rasawulan.Empu Supo dikenal dikalangan masyarakat Jawa sebagai pembuat / pencipta keris pusaka dari Kiyai Sunan Kalijogo yang diberi nama Kiyai Carubuk, Keris pusaka milik Empu sendiri. Kiyai Sengkelat , Keris Nogososro. Dan keris - keris ampuh lainnya yang masih dikenal sampai dewasa ini dalam masyarakat Jawa.

Ki Tirtodongso dikenal luas dan dihormati dimasyarakatnya,sehingga dikisahkan sewaktu beliau wafat, oleh masyarakat tidak diinginkan dibawa / diangkut dengan kereta jenasah, karena masyarakatnya mengharapkan memikul bersama secara estafet jenasah beliau dari tempat tinggal beliau sampai kepemakaman Kemit Klaten.

Ibu SUTOMO SASTROWILOBO sebagai kerabat warga keturunan Tirtodongso masih ingat akan pesan Eyang Tirtodongso yang isinya anak cucu keturunan Beliau agar selalu berbuat “Tansah Tumindak Utomo“ yaitu selalu berbuat utomo, jujur, sabar, bijaksana cinta kebenaran dan berbuat adil. Dalam bidang pekerjaan atau profesi “ Tansah Tumindak Utomo” itu berarti selalu melakukan pekerjaan / profesi dengan sebaik - baiknya, penuh tanggung jawab, berdedikasi dan jujur serta iklas.

Ada dua versi menurut kisah turun temurun yang disampaikan. Eyang Tirtodongso masih keturunan dari Eyang Empu Kraton Majapahit sewaktu Prabu Browijoyo V. Adapun Eyang Empu itu sendiri masih keturunan dari Eyang Djoko Dolog dan dari Prabu Browijoyo V.

Sedangkan menurut Bapak SOEKARMANTO HARDJOSOEDIRO dan dari keterangan Bapak Mr.SOEDJONO HARDJOSOEDIRO, Eyang Tirtodongso itu masih ada hubungan keturunan dari
Eyang Empu Supo dan dengan Kraton Pajang ( Sunan Amangkurat I ) yang meninggal di
Tegalarum Tegal. Beliau juga menyarankan agar Kyai Djafar yang diperkirakan masih ada
kaitannya dengan Eyang Tirtodongso, dilacak bagaimana ceriteranya dan siapa. Eyang
Tirtodongso mewarisi bakat Empu dan menjadi Empu Kraton Kartosuro, ahli dalam membuat
peralatan perang untuk Kraton Surakarta..


Karya Keris Tirtodongso

Selain tinjauan sisi esoteri, teknik beras utah kemudian berkembang dengan berbagai variasinya. Pada jaman Paku Buwana IV, Surakarta, gebagan dipelopori oleh empu Brojoguno yang kemudian sering disebut dengan keris Mangkubumen, oleh karena empu Brojoguno kemudian mendapat gelar Kanjeng Pangeran Mangkubumi (pada jaman PB V). Variasi teknik gebagan dilanjutkan secara lebih ekstrim lagi oleh empu Tirtodongso pada jaman Paku Buwana VII-IXdan empu Djojosukadgo, pada jaman Paku Buwana ke X.
Dibenarkan oleh KPH. Poerwohadikusumo, sesepuh dari Solo, keris karya empu Brojoguno jaman Paku Buwana IV; dapat dibaca dari adanya ciri gedigan pada bawah gonjonya (pamor sumberan). Jika membuat keris ber-luk ciri-ciri sogokannya kandas wojo, bawang sebungkulnya terkadang dibuat besar. Keris seperti ini dipastikan karya Brojoguno setelah bergelar Pangeran Mangkubumi atau sering disebut keris Mangkubumen.
Konon empu Tirtodongso, melanjutkan gaya keris Mangkubumen ini dengan supervisi dari Brojoguno sendiri yang usianya sudah uzur.

Walaupun rancang bangunnya hampir sama, yakni sogokan kandas wojo dan terkadang membuat bawang sebungkul besar, namun karya empu Tirtodongso tidak ada ciri gedigan (pamorsumberan) pada gonjo bawahnya, serta jarang melengkapi sekar kacangnya dengan jenggot. Keris Brojoguno/Mangkubumen PB IV-V boleh dibilang kebanyakan memakai jenggot, tidak meninggalkan ciri khas Madura-nya, serta grenengnya sering dimulai dengan cekohan dangkal.

Ringkasnya, perbedaan mendasar karya empu Tirtodongso adalah gonjo bawah tidak ada sumberan (gedigan) bahkan karya Tirtodongso sering gonjo wulung.

Read More......

Selasa, 08 September 2009

Kota Terlarang : Pusat Kosmos Kekuasaan Wonosobo

Peran sebuah wilayah pemerintahan tak akan lepas dari pusat kendali pemerintahan tersebut. Pada era kerajaan dahulu pusat pemerintahan ini sering disebut dengan Istana, Kedhaton yang ditempati oleh Raja dan keluarganya, sedangkan Kadipaten, Katemenggungan merupakan pusat pemerintahan di bawah kekuasaan para raja. Kawasan pusat pemerintahan dimasa silam sering dianggap sebagai pusat kosmos kekuasaan yang sakral dan penuh dengan perlambang. Sebagai kawasan yang sakral dan sensitive di masa silam kawasan ini menjadi daerah terlarang;forbidden city.

Kabupaten Wonosobo yang terletak di tengah Pulau Jawa ,pada tahun 1830 terjadi boyong kori pusat pemerintahan dari Plobangan Selomerto menuju Kota Wonosobo yang diperintahkan oleh Bupati I Wonosobo versi Leiden Belanda yaitu Tumenggung Setjonegoro. Sebagai pusat kosmos kekuasaan di Wonosobo, aturan peninggalan Kerajaan Mataram masih diberlakukan sehingga kawasan ini menjadi kawasan steril, hanya yang mempunyai ijin dan kewenangan yang boleh memasuki kawasan Pendopo Kabupaten.

Pringgitan

Menurut versi rakyat , lingkungan pendopo dan sekitarnya diatur dan di tata oleh para pendiri Wonosobo yaitu Kyai Walik, Kyai Karim, dan Kyai Kolodente. Kyai walik dianggap paling dominan dalam menata tata kota dan pemerintahan. Menurut versi lain sebenarnya kawasan Alun-alun sekarang pada abad 18 masih berupa tanah pertanian yang hanya terdapat bangunan pemerintahan kecil. Kyai Kolodente menurut versi ini berjasa besar mengalirkan aliran air Sungai Serayu memasuki Kota Wonosobo guna mengairi sawah pertanian di sekitarnya. Kyai Kolodente berpangkat Ulu-ulu. Banyak versi memang.

Pusat pemerintahan Wonosobo sendiri mempunyai beberapa titik tempat antara lain Alun-alun dengan Ringin Kurungnya ,Paseban Barat dan Paseban Timur, Pendopo, Pringgitan, dan Dalem Katemenggungan (sekarang Rumah Dinas Bupati). Masing-masing memiliki fungsi dan perlambang sendiri-sendiri.

Di era sebelum kemerdekaan, rakyat yang akan sowan kepada Bupati Wonosobo harus menunggu di Paseban sampai memperoleh ijin menghadap. Jika sudah mendapatkan ijin baru boleh diperkenankan masuk konon dengan ‘mlaku ndodok” atau jalan dengan jongkok sampai ke Pendopo Kabupaten. Jarak antara Paseban ke Pendopo sekitar 100 Meter.

Posisi titik tempat yang ada di sekitar Pusat Kekuasaan Kabupaten Wonosobo dapat dikatakan berbentuk trisula yaitu tiga mata trisula dilambangkan dengan Paseban Timur, Ringin Kurung dan Paseban Barat. Kemudian muara trisula dilambangkan dengan Pendopo Kabupaten, sedangkan “bonggol” atau pegangan trisula dilambangkan dengan Pringgitan, Dalem Katemenggungan, Pendopo Belakang (sekarang), dan gerbang belakang dimana semua tempat itu mempunyai pintu yang sejajar lurus sejak mula Pintu masuk Pendopo, pintu keluar pendopo menuju Pringgitan, Pintu masuk Pringgitan, Pintu masuk Dalem Katemenggungan, Pendopo Belakang, sampai dengan pintu gerbang belakang.

Dimasa silam posisi Alun-alun menjadi sangat strategis dan merupakan salah satu tolok ukur keberlangsungan suatu wilayah pemerintahan. Apabila Alun-alun sudah dimasuki musuh maka Dalem Katemenggungan akan segera berkemas untuk meloloskan diri karena dalam beberapa saat wilayah ini akan jatuh ketangan musuh. Oleh karena itu dibanyak kalangan terutama yang masih teguh melaksanakan hukum dan budaya Jawa, Alun-alun masih menjadi lambang kewibawaan sebuahpemerintahan sampai era modern sekarang ini.

Ruang Welheim

Sekitar Tahun 1860-an Pendopo Kabupaten Wonosobo pernah rusak parah karena terkena gempa bumi dan di era perang kemerdekaan pernah pula hancur karena di bom oleh Pesawat Udara Bala Tentara Jepang. Pada Tahun 70-an Presiden Republik Indonesia waktu itu Soeharto mangadakan pertemuan denganPerdana Meneteri Australia Welheim di Rumah Dinas Bupati Wonosobo. Ruang pertemuan ini kemudian disebut dengan Ruang Welheim yang saat ini menjadi tempat untuk menemui tamu-tamu penting.

Kamar Presiden (VIP I)

Disebelah Ruang Welheim terdapat beberapa kamar yang dimana salah satunya dulu disebut Kamar Kepresidenan dimana Presiden Republik Indonesia era 70-an Soeharto pernah menginap di kamar tersebut. Kamar Kepresidenan ini saat ini disebut Kamar VIP 1 dimana Mantan Presiden Repiblik IndonesiaAbdulrahman Wahid sering singgah dan menginap di kamar itu. Di ruang ini sebenarnya terdapar lorong bawah tanah yang tembus ke luar lingkungan pendopo dengan tujuan untuk jalan melarikan diri jika terjadi bahaya. Saat ini lorong tersebut ditutup oleh pasir di bawah lantai di ruang Welheim. Yang terlihat tinggal lubang udara di dekat pintu masuk pringgitan.

Menurut cerita di jaman Perang Kemerdekaan , di Rumah Dinas Bupati dibangun shelter atau lubang perlindungan (bunker) untuk berlindung dari serangan udara, namun bekasnya saat ini sudah tidak terlihat lagi.


Pilar Pringgitan

Setelah reformasi. Wilayah Pendopo Kabupaten menjadi lebih terbuka untuk masyarakat. Sekarang ini menjadi Kantor dan Rumah Dinas Bupati Wonosobo. Walaupun sudah memasuki era modern Pendopo Kabupaten Wonosobo sebagaimana situs sejarah lain mempunyai banyak legenda maupun mitos. Banyak kalangan yang menganggap wilayah ini masih wingit sehingga tidak boleh sembarangan jika berada di lingkungan ini. Konon para Bupati Wonosobo yang tinggal disana harus mempunyai visi yang benar dan lurus sehingga mampu memerintah dengan baik serta kuat.


Pilar yang konon dahulu diketemukan jazad Prajurit Jawa

Pilar-pilar yang ada di Pringgitan berdiameter kurang lebih 1 meter yang dalamnya berisi pasir. Beberapa mitos yang menarik adalah adanya ”soko” pilar-pilar di Pringgitan yang sedemikian besar konon didalamnya terdapat mayat manusia. Mitos ini diceritakan oleh orang-orang yang telah lama berdinas di Pendopo Kabupaten. Berpuluh tahun yang lalu ketika diadakan pemugaran dua pilar di depan pringgitan diketemukan sisa jasad manusia di kedua pilar dengan baju pakaian Jawa yang masih lumayan utuh. Kemudian jazad itu dimakamkan disekitar Pendopo Kabupaten. Keberadaan jazad tentunya sulit dibuktikan karena harus membongkar pilar yang lain untuk membuktikan, namun inilah mitos yang menjadi bumbu rasa sebuah peninggalan bersejarah.

Perlu adanya usaha dari pihak-pihak yang berkopenten untuk mengumpulkan data sejarah dan data pendukung lainnya yang lebih valid sehingga peninggalan bersejarah ini tetap langgeng dan mempunyai nilai historis kebangsaan yang bisa dikenang dan dibanggakan.(bimo:jatiningjati.com, foto : Humas : Pendopo Malam , Jatiningjati.com:inside Pendopo )


Read More......

Minggu, 02 Agustus 2009

KI AGENG WONOSOBO ; CIKAL RAJA-RAJA MATARAM ISLAM

Akan banyak orang yang tidak percaya bahwa Trah Raja Mataram Islam bermula dari sebuah daerah yang bernama Kabupaten Wonosobo tepatnya di Desa Plobangan Kecamatan Selomerto. Di sanalah Situs Makam Ki Ageng Wonosobo berada yang saat ini menjadi salah satu Obyek Wisata Ritual Kabupaten Wonosobo. Lepas dari pro kontra siapa sebenarnya Ki Ageng Wonosobo ini namun yang jelas nama beliau yang sama dengan Kabupaten Wonosobo menunjukkan bahwa di wilayah Wonosobo pada abad 14 M telah ada kehidupan sosial kemasyarakatan.

Ki Ageng Wonosobo dikenal pula dengan nama Ki Ageng Dukuh, sedangkan di Desa Plobangan lebih dikenal dengan nama Ki Wanu atau Ki Wanuseba. Menurut saya perbedaan nama ini lebih cenderung disebabkan dialek daerah tersebut terpengaruhi oleh dialek Banyumas.

Siapa Ki Ageng Wonosobo atau Ki Ageng Dukuh ini? Beliau merupakan cucu dari Prabu Brawijaya V Raja Majapahit terakhir dan merupakan putra dari Raden Bondan Kejawen (Lembu Peteng) putra Brawijaya V yang menikah dengan Nawangsih. Nawangsih sendiri adalah putri dari Ki Joko Tarub yang menikah dengan Dewi Nawangwulan (epos Joko Tarub). Secara trah keturunan, Ki Ageng Wonosobo masih Sayid atau keturunan Nabi Muhammad SAW karena Ki Joko Tarub adalah putra dari Maulana Malik Ibrahim yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari Trah Hendramaut.

Dalam hubungannya dengan berdirinya Mataram Islam, Ki Ageng Wonosobo berputra Pangeran Made Pandan yang dibeberapa literatur yang saya baca merupakan nama lain dari Ki Ageng Pandanaran pendiri Kota Semarang pada era Demak Bintoro. Pangeran Made Pandan berputra Ki Ageng Saba. Ki Ageng Saba ini ada kemiripan dengan Ki Ageng Wonosobo namun tidak jelas apakah keberadaan Ki Ageng Saba ada kaitannya dengan Wonosobo tempo dulu.

Selanjutnya, Ki Ageng Sobo mempunyai seorang putri yang menikah dengan Ki Ageng Pemanahan yaitu Nyi Ageng Pemanahan yang merupakan Ibu dari Sutowijoyo atau lebih dikenal dengan Panembahan Senopati ing Alogo Syekh Sayyidina Pranoto Gomo (Panembahan Loring Pasar ? )pendiri Kerajaan Mataram Islam di Kota Gede Yogyakarta. Dari Penembahan Senopati ini turunlah trah Ki Ageng Wonosobo menjadi raja-raja Mataram Islam sampai dengan era Kasunan, Ngayogyakrto Hadiningrat, dan Mangkunegaran sekarang ini.

Situs makam beliau saat ini telah dipugar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo dan dijaga dengan baik oleh warga sekitar. Lokasi Situs makam ini sangat dihormati oleh masyarakat dikarenakan Ki Ageng Wonosobo merupakan tokoh penyebar Agama Islam dan sekaligus cikal dari Desa Plobangan Selomerto. Di sekitar makam Ki Ageng Wonosobo terdapat tiga makam kuno lain yang dipagar. Kono ketiga makam ini juga para pendahulu yang merupakan Ulama di era yang sejaman dengan Ki Ageng Wonosobo. Salah satunya adalah Kyai Chotik yang makamnya berada di bawah pohon beringin yang sangat tua dan besar. Diameter pohon beringin ini sekitar 4 meter (mengingatkan saya dengan pohon beringin di Ibu Kota Mataram Kota Gede Jogja) dan makam Kyai Chotik dikelilingi oleh akar pohon beringin tersebut. Makam Kyai Chotik sendiri hanya berjarak kurang lebih 10 meter dari Makam Ki Ageng Wonosobo.

Keberadaan situs Ki Ageng Wonosobo ini semakin menguatkan bahwa pada abad 14 M , Wonosobo sudah mempunyai peran yang cukup penting dalam pengembangan Agama Islam sekaligus mungkin sudah mempunyai pemerintahan di tingkat kecil (mungkin pedukuhan). Yang jelas ketepatan sejarah dari Ki Ageng Wonosobo yang dimakamkan di Desa Plobangan Kecamatan Selomerto ini perlu ditelaah lagi dengan seksama namun beberapa waktu lalu konon pihak Keraton Jogjakarta sudah memasukkan makam ini dalam salah satu situs Punden Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Wallahu Alam (ditulis oleh Bimo Jatiningjati, Foto : Lis Jawa Pos)

Read More......

Kamis, 23 Juli 2009

Songsong Agung:Pusaka Kabupaten Wonosobo

Gambar di sebelah ini adalah Gambar Songsong Agung dan replika Tombak Kolowelang pusaka Kabupaten Wonosobo.Dalam setiap memperingati Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang ditasbihkan pada tiap Tanggal 24 Juli, kedua benda ini dijamas dan menjadi bagian dari acara prosesi hari jadi Kabupaten Wonosobo.Tombak Kolowelang sendiri tinggal replika sedangkan yang asli konon dipercaya telak moksa dan tidak mau dipegang oleh manusia lagi.
Malam hari sebelum esok Songsong Agung dan replika Tombak Kolowelang di kirab ke Alun-alun , diadakan acara ritual khusus dengan tujuan antara lain membersihkan dan melihat kondisi keduanya sebelum dikirab. Prosesi ini biasanya dilakukan setelah prosesi ritual di Alun-alun selesai dilakukan. Keesokan harinya kedua benda pusaka ini dikirab dalam rangkaian hari jadi di Alun-alun (Birat Sengkolo)


Songsong Agung ini apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia ialah Payung Kebesaran. Payung ini melambangkan kekuasaan para Penguasa di jaman dulu. Apabila jika ada serangan musuh hingga Payung Kebesaran dapat direbut musuh maka pertanda kekuasaan Penguasa tersebut akan tumbang.
Secara makna sebenarnya Songsong Agung merupakan simbol dari harapan dan doa. Fungsi sebuah payung adalah mengayomi sehingga diharapkan penguasa wilayah tersebut mampu mengayomi seluruh rakyat yang berada di bawah pemerintahannya. Menjadi perlambang doa yaitu agar rakyat dan wilayah tersebut selalu terlindungi dan terayomi sehingga aman, makmur,sejahtera.

Beberapa kalangan tertentu mempercayai mitos bahwa Songsong Agung mempunyai ”power” yang tidak dapat dianggap remeh karena sesuai fungsi pemaknaannya adalah melindungi ”nagari”. Jika dalam penyimpanannya tidak benar atau sembarangan maka ”power” nya akan meredup sehingga penguasa yang sedang bertahta saat itu juga akan kehilangan wibawa dan dijauhi rakyat hingga akhirnya ”lengser keprabon”

Read More......

Senin, 20 Juli 2009

Abad 16 M, Islam Masuk Wonosobo:Tengahing Jowo

Sebuah komplek makam kuna para sayid (bangsawan keturunan Arab) ditemukan belum lama ini di Dusun Ketinggring Desa Kalianget Kecamatan Wonosobo. Kuburan tersebut berada di belakang komplek makam Mangunkusuman. Sedikitnya ada 25 orang habib (keturunan Nabi Muhammad SAW) yang disemayamkan di situ. Ini menunjukkan bila Wonosobo salah satu kantong wilayah penyebaran agama Islam sejak zaman dulu

Dari sekian nisan itu, ada 4 makam berada di ketinggian dan dikelilingi tembok. Seluruh nisannya terbuat dari batu alam berwarna hitam kelam. Kebanyakan ditatah dengan huruf Arab. Ada beberapa yang menggunakan huruf Jawa. Di atas gundukan tanah diletakkan batu-batu halus kecil. Istimewanya, makam tertata rapi di atas bukit. Di bawahnya adalah Dusun Kejiwan yang tampak dari atas rumahnya bergerombol indah.Terdapat undak-undakan atau semacam tangga naik. Ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa keempat makam itu merupakan tokoh yang dituakan atau dihormati pada masanya. Salah satunya adalah Sayid Hasyim bin Idrus bin Muhsin Ba’abud. Konon, dia masih keturunan Nabi Muhammad SAW berasal dari Hadramaut, Yaman yang datang ke Indonesia menyebarkan agama Islam

Bersama keluarga Bin Yahya, keluarga Ba’bud mengajarkan tarekat alawiyin dan sathoriyah. Keduanya menurut buku Sajaratul Ammah yang ditulis Robithoh Alawiyin Indonesia, keturunan Ba’bud dan bin Yahya serta para pengikutnya masuk ke Wonosobo pada akhir abad 16 memasuki abad 17 Masehi.

Menurut Habib Aqil bin Muhsin Ba’bud, salah satu keturunan Sayid Hasyim, 4 makam berjajar itu adalah Sayid Hasyim, Mangundirjo, istri Mangundirjo dan istri Sayid Hasyim. Sayid Hasyim adalah putra dari Sayid Idrus Ba’bud yang makamnya berada di Pasekaran, Pademonan, Batang. Sayid Hasyim datang ke Wonosobo untuk berdakwah bersama para pengikutnya.

Sayid Hasyim wafat pada tahun 1212 Hijriah atau 1791 Masehi dalam usia 120 tahun. Nisan yang berukir huruf Arab dan Jawa menunjukkan angka tahun 1791 M. Dalam laporan tim penelitian makam tua Dusun Ketinggring Desa Kalianget dan Desa Kejiwan, yang terdiri dari Habib Aqil, Ahmad Muzan, Elias Sumar, dan Bambang Sutejo disebutkan huruf Arab yang ditatah dalam nisan menyerupai kalimat prosa Arab dalam kitab Maulid al Barzanji.

Dari hasil penelitian tersebut dijelaskan bahwa para keturunan sayid ini datang dari Batang dan Pekalongan. Pendapat itu disertai bukti dalam buku Robithoh Alawiyin Indonesia yang berada di Jakarta terdapat catatan bahwa rombongan keluarga Ba’bud dan Bin Yahya marga Alawiyin berdakwah di Wonosobo. Dalam catatan disebutkan pemimpin rombongan Sayid Hasyim, wafat dan dimakamkan di Wonosobo. Setelah diadakan penelusuran, makam berhasil ditemukan.

Bukti lainnya adalah artevak batu nisan terdapat makam pengikut Sayid Hasyim berasal dari Pekalongan bernama Mu’minah binti Zakaria Al Qodli yang berangka tahun 1260 Hijriah. Selain itu ada makam Yahya Hajatun Nabi bertahun 1260 H, Walid Hasyim Ibn Hajatun 1262 H.

“Dari catatan buku Robithoh Alawiyin kami berupaya menemukan di mana letak makam Sayid Hasyim. Ternyata berada di kompleks pemakanan Candi Wulan atau makam Mangunkusuman atau di belakangnya,”ujar Habib Aqil.

Ditambahkan guru SMP Islam Wonosobo tersebut, semula malam tidak diperhatikan oleh masyarakat. Tertutup semak belukar lebat dan ditumbuhi tanaman keras. Bersama juru kunci makam Mangunsuman, makam para sayid itu lantas dibersihkan.

Ulama dan umaro (pemimpin) sejak zaman dulu memiliki hubungan erat. Terbukti, tambah Habib, makam Mangundirjo dan Sayid Hasyim yang berjajar. Raden Mangunkusuma adalah Bupati Wonosobo kedua setelah Tumenggung Setjonegoro. “Mangundirjo adalah ayah Mangunkusuma. Mangundirjo dan istrinya disemayamkan berjajar dengan Sayid Hasyim dan istri. Sayid Hasyim tokoh spiritualnya Mangunkusuma dan Mangundirjo. Ini menunjukkan sejak zaman dulu terjadi hubungan baik antara pemimpin dan ulama,”tandasnya.

Letak makam Mangunkusuma di depan, satu kompleks dengan makam anak-anak Sayid Hasyim. Sebaliknya, Mangundirjo –ayah Mangunkusuma- berada di belakang satu kompleks dengan makam Sayid Hasyim.

Berdasarkan penemuan tersebut, diduga penyebaran Islam di Wonosobo dilakukan sejak abad 17 M oleh para sayid. “Sementara masyarakat mempercayai adanya 3 tokoh pendiri Wonosobo yaitu Kyai Walik, Kyai Kolodete dan Kyai Karim. Barangkali ketika tokoh tersebut salah satunya adalah para sayid itu,”kata Bambang Sutejo dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.
Sehingga penyebar agama Islam tidak hanya ulama keturunan Keraton Mataram atau para pengikut Pangeran Diponegoro –yang selama ini dipercayai- tetapi juga para sayid yang memang datang untuk berdakwah.

Sementara itu, keberadaan makam tak lepas dari mitos yang berkembang di masyarakat. Konon, bukit tempat para sayid ini dimakamkan akan longsor. Apabila itu terjadi, bukit akan menutupi Desa Kejiwan. Untuk mengatasinya, rekahan bukit disumbal alu dan sapu lidi tua. Makam pun kembali aman.

Dituturkan juru kunci makam Mubazir, kini makam para sayid ramai dikunjungi peziarah. Sebelumnya hanya makam Mangunkusuman yang diziarahi orang. Untuk memberikan kenyamanan bagi peziarah, makam dibersihkan dan lantainya disemen kembali.
“Kami berharap jalan menuju makam dibangun. Lalu rumput-rumputnya dibersihkan,”tambah Abdul Wasik warga setempat.

Dia menceritakan makam sayid memiliki keajaiban. Ia bersama warga setempat pernah menyaksikan sinar cemerlang keluar dari makam itu. Peristiwa terjadi pada saat menjelang pilihan kepala daerah tahun 2005 lalu.



Ajarkan Tarekat Alawiyah dan Sathoriyah

Ditemukannya makam Sayid Hasyin bin Idrus bin Muhsin Ba’abud memiliki benang merah dengan sejarah perkembangan agama Islam di Wonosobo. Sebenarnya siapakah Sayid Hasyim? Tokoh yang berasal dari Hadramaut tersebut merupakan kawan baik keluarga Bin Yahya. Mereka datang ke Indonesia dengan tujuan menyebarkan agama. Keduanya tiba di Batang. Lalu menyebarkan agama di setiap tempat yang disinggahi. Dari Batang, lantas dilanjutkan ke daerah selatan pegunungan Dieng yang waktu itu merupakan bermukimnya masyarakat Hindu Budha. Kemudian turun ke wilayah selatan yang sekarang disebut Kauman. Kampung ini dijadikan sebagai tempat tinggal sekaligus pusat penyebaran agama. Mereka membangun langgar sebagai cikal bakal masjid yang nantinya menjadi tempat pengajaran agama.

“Dalam dakwah beliau menggunakan prinsip sesuai diajarkan Rasulullah SAW dengan ilmu dan tutur kata serta perilaku baik. Sehingga memikat hati masyarakat untuk mengikuti ajarannya,”ungkap Habib Aqil yang masih keturunan Sayid Hasyim
Keluarga Ba’bud tidak suka menampakkan kelebihan di hadapan orang banyak. Dalam penyebaran agama menanamkan tauhid dan akhlakul karimah melalui tarekat alawiyah dan sathoriyah. Yaitu dengan aklak baik dan dzikir.

Sayid Hasyim memiliki 3 anak yaitu Ali, Syeh dan Hamzah. Ketiganya menyebar ke berbagai daerah di Pulau Jawa maupun luar negeri. Ali menurunkan 4 anak yakni Syarifah Khotijah, Ibrahim, Umar dan Muhamad. Sayid Ibrahim merupakan dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama di Wonosobo. Dia juga banyak bersedekah tanah untuk masjid dan lembaga pendidikan.

“Keturunan lainnya adalah Syeh dan Hamzah yang menyebarkan agama Islam di Parakan. Menetap di Parakan, memiliki 3 anak yaitu Muhsin, Usman dan Hasyim,”tandasnya. (lis retno wibowo; Jawa Pos) Lihat Juga Ekspedisi Ketinggring


Read More......

Senin, 29 Juni 2009

Makam Syekh Abdullah Selomanik, Dikunjungi Gus Dur dan Tokoh Nasional


Syekh Abdullah Selomanik adalah keturunan Brawijaya V dari Majapahit. Putra Raden Bintoro I yang bergelar R Lembu Peteng (Kyai Tarup). Diyakini tokoh merupakan penyebar agama Islam pertama di Lembah Dieng. Sampai sekarang makamnya kerap dikunjungi para peziarah.Peziarah datang dari berbagai kota di luar Wonosobo. Makam ini menjadi terkenal setelah mantan Presiden RI Gus Dur berkunjung beberapa kali.

Konon sebelum menjadi presiden Gus Dur kerap berziarah ke makam Syekh Abdullah Selomanik atau warga menyebutnya Mbah Abdullah. Biasanya ia datang malam hari atau dini hari dengan rombongan beberapa mobil. Sebulan bahkan bisa 3-4 kali datang. Saat suasana Jakarta memanas, konon Gus Dur memilih ziarah selama 4 hari di makam itu.


Pada saat khaul, tidak kurang 10 ribu orang hadir di makam. Mereka berasal dari luar Kota Wonosobo. Makam Mbah Abdullah Selomanik dipugar tahun 2000. Pada saat digali terdapat kain kafan dan jenazahnya masih utuh. Konon, jenazah ini adalah para santri Abdullah Selomanik.

Di sebelah bangunan makam terdapat pohon besar. Pada saat terjadi angin lisus besar, dahan ranting yang patah seharusnya jatuh tepat di makam di bawahnya. Anehnya, dahan justru menimpa makam di depannya agak jauh. Sementara makam tua di bawahnya tetap utuh.


Untuk mencapai makam tersebut, pengunjung melewati rumah penduduk yang berdesak-desakan karena minim lahan pemukiman. Kemudian menaiki tangga yang telah dibangun sedemikian rupa. Sebelum berziarah, pengunjung disarankan untuk berwudlu agar bersih.

Bangunan makam cukup besar, di tengahnya terdapat kijing besar yang ditutup kelambu. Ruangan dibagi dua untuk putra dan putri. Mereka dapat berdoa khusyuk di depan makam.

Bila ingin menikmati pemandangan pegunungan, pengunjung dapat duduk-duduk di luar bangunan makam. Angin dingin khas pegunungan menghujam kulit. Kelelahan selama perjalanan bakal sirna melihat berderet-deret tanah pertanian di atas perbukitan.



Berkunjung ke makam Abdullah Selomanik ini dapat dipadukan dengan wisata alam lain. Dari makam, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke Dataran Tinggi Dieng. Lalu lewat Desa Sembungan melihat Telaga Cebong, turun ke Desa Mlandi, mampir sejenak di curug Sikarim. Setelah itu singgah di Telaga Menjer yang airnya tenang.

Foto dan artikel:LIS Radar Semarang (Jawa Pos)

Read More......

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO