Kamis, 28 Agustus 2014

KYAI KARIM DAN KI TUNTENG : Legenda Sejarah Daerah Longkrang, Kenteng, dan Mangli

Kyai Karim dipercaya sebagai tokoh penting dalam perkembangan wilayah Wonosobo di waktu silam. Konon bersama keluarganya beliau bermukim di Bukit Lowoidjo atau berada di wilayah Desa Kejiwan sekarang . Pada waktu itu menurut kepercayaan bahwa terdapat telaga di dekat pemukiman Kyai Karim dan brayat yang terletak longkange (diantara) dua puntuk yang bernama Logandeng dan Bugangan.

Karena letak telaga yang berdekatan dengan tempat kediaman Kyai Karim, maka untuk keperluan rumah tangga setiap hari Kyai Karim menyuruh istri serta anak-cucunya mengambil air dan mandi di telaga itu. Pada waktu itu perintah yang setiap kali diberikan Kyai Karim pada keluarganya adalah : “jupuka banyu lan adusa ing kali Longkang kono” . Dari kata-kata yang sering kali terdengar diucapkan oleh Sang Kyai, maka dinamakanlah telaga tersebut Telaga Longkang.Setelah beberapa waktu berjalan nama itu masih digunakan oleh penduduk dan penghuni sekitarnya. Sekarang ini kata “Longkang” berubah pengucapannya menjadi “Longkrang” . 

Keluarga Kyai Karim terus bertambah seiring semakin banyaknya pendatang yang mengakibatkan jumlah penduduk semakin meningkat. Kebutuhan bahan makanan yang terus bertambah mengakibatkan tanah ladang untuk menanam padi atau hasil bumi lain semakin terbatas. Maka melihat kondisi tersebut Putera Sulung Kyai Karim yang bernama Ki Tunteng, berusaha untuk mendapatkan tanah subur, guna menambah hasil bahan makanan yang diperlukan. Dengan mendapat ilham dari Allah SWT, maka kedua bukit (puntuk) dikedua sisi telaga digugurkan oleh Ki Tunteng, dan kemudian tanah dari bukit-bukit tersebut digunakannya untuk menimbuni telaga itu sehingga telaga akhirnya berubah menjadi ladang yang menghasilkan. 

Setelah Kyai Karim wafat, Ki Tunteng pergi menyepi menjauhkan diri dari keramain dan keluarganya . Ia menetap di dataran yang cukup tinggi dan bekerja serta bersemedi setiap hari . Pekerjaannya adalah membuat pusaka dan dikenal sebagai orang yang sakti sehingga namanya semakin dihormati. Orang berkata : “Nyoto Pancen empu kang kenteng !”, (memang benar-benar empu yang sakti) dan sejak itu masyarakat menamakan tempat Putera Sulung Kyai Karim itu : Kentengan . Hingga sekarang tempat tersebut dinamakan orang “Kenteng” . Kata kentengan berubah ucapan menjadi kenteng . Ki Tunteng dikenal juga menciptakan pusaka wesi aji dengan pamor di atas ganjanya yang berlukiskan gunung bertumpuk, sebagai suatu isyarat bahwa barang siapa memiliki pusaka itu tiada akan sukar dalam perjalanan hidupnya untuk mendapatkan rezeki secukupnya dengan isin Allah SWT. Orang menamakan pusaka itu Ki Djalak Sangu Tumpeng. 

Ki Tunteng semasa hidupnya sering mensucikan diri dengan bermandi di sungai sebelah Barat tempat tinggalnya yang merupakan lembah. Ditempat inilah banyak orang sering datang dan menyambut Ki Tunteng. Secara bercanda Ki Empu sering berkata kepada orang-orang itu : “ Arep adus wae semang ngili ! “ (Mau mandi saja harus ke sungai). Memang pada masa itu telaga di sekitar Logandeng dan Bugangan yang tadinya digunakan orang untuk mandi dan mengambil air telah diubah menjadi ladang dan sawah oleh Ki Tunteng . Tempat bersuci Ki Tunteng ini akhirnya menjadi tempat mandi penduduk sekitar. Demikianlah maka tempat pemandian baru tersebut dinamakan Mangli, asal dari kata-kata semang dan ngili.

Read More......

Kamis, 14 Agustus 2014

SEMAR ATAU AJISAKA ? Pertapaan Terakhir di Telaga Warna Dieng


Kyai Lurah Semar Badranaya adalah tokoh legendaris pewayangan Jawa dan Sunda. Dalam cerita versi India dengan Berbahasa Sansekerta, tokoh Semar tidak dikenal.Tokoh ini sering muncul sebagai pamomong para satria yang berada dalam kebenaran pada cerita Mahabarata dan Ramayana versi Jawa.

 Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun.

Pertapaan Terakhir Semar di Telaga Warna Dieng

Namun ditengah masyarakat Jawa khususnya, tokoh Semar merupakan sosok yang riil dan sampai sekarang masih hidup dalam rangka mengawal kehidupan manusia di Tanah Jawa. Semar menjadi tokoh sentral kebijaksanaan dan pelindung terutama pada filsafat-filsafat kepemimpinan. Banyak orang percaya bahwa Semar akan hadir dan membantu kepada para pemimpin atau manusia berbudi luhur yang mampu membawa kepada kesejahteraan dan keadilan.

Oleh Masyarakat Wonosobo, Semar dipercaya pernah bertapa di Pegunungan Dieng yaitu di Gua Semar sebelah Telaga Warna Dieng Kabupaten Wonosobo. Lokasi itu dipercaya sebagai istana terakhir Mandala Sari alias Semar. Di sanalah Semar bersemadi abadi setelah sering bertapa di berbagai tempat.

Kepercayaan keberadaan Semar di Dieng inilah yang mungkin membawa Gua Semar menjadi tempat yang disakralkan sehingga banyak raja-raja Jawa dan pemimpin bangsa ini konon pernah berziarah dan bermeditasi di sana. Sifat Semar yang bijaksana dan mengayomi bisa jadi memberikan intuisi yang kuat kepada orang-orang yang bermeditasi di sana sehingga dapat tertempa batin dan jasmaninya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Apakah Semar Adalah Manivesto Dari Aji Saka?

Dari beberapa sumber , muncul telaah baru dari pribadi Semar yang dinyatakan sebagai panutan hidup yang memberikan tuntunan keselamatan hidup. Aliran ini memaknai bahwa Semar adalah tokoh asli Jawa yang keberaadaannya lebih lama dari masuknya Agama Hindu dan Budha di Nusantara. Semar telah memberikan pondasi yang kuat untuk masyarakat Jawa di masa lampau untuk menyembah Tuhan.Sebagai cikal orang Jawa, Semar dianggap telah memberikan konsep sastra awal untuk dapat memberikan pelajaran pada manusia Jawa. Konsep huruf Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka akhirnya menurut pendekatan ini diyakini sebagai karya Ki Semar Badranaya.

Menurut Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Menurut Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan oleh Semar. Maka dengan logika ini maka bisa dikatakan pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

Selama ini huruf Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka dipercaya adalah karya Aji Saka yang terkenal karena epos gugurnya dua orang abdinya demi mempertahankan amanah yang mereka terima. Dengan adanya pendekatan baru bahwa Semar adalah pencipta Ha-Na-Ca-Ra-Ka, maka akan muncul pertanyaan siapakah “yang benar” menciptakan akasara Jawa. Akan lebih dalam lagi jika muncul pemikiran apakah Semar adalah Aji Saka itu sendiri?

Adanya cerita Aji Saka yang mendorong Prabu Dewata Cengkar ke Laut Selatan menunjukan bahwa lokasi Istana Aji Saka berada di pesisir Pulau Jawa dan setelah tidak berkuasa lagi mungkin Aji Saka pergi ke pedalaman dan bertapa di Pegunungan Dieng? Tentunya perlu kehati-hatian dalam menarik hipotesa legenda ini karena bagaimanapun tidak ada bukti konkret walaupun hanya berupa mythe. Namun jika berandai-andai bahwa Semar adalah Aji Saka, dan kemudian bertapa dan moksa di Dieng, tentunya peradaban di wilayah Dieng dan derah sekitarnya sudah ada sejak dahulu sekali,bahkan mungkin sebelum masehi.Wallahu Alam.



Daftar Referensi :

Read More......

Senin, 11 November 2013

WACANA DI AWANG_AWANG (Free E Book)

Sebuah karya yang mungkin sangat tidak berarti yang dibuat hanya untuk menjadi sebuah monumen mimpi indah dengan bumbu kata “jikalau” atau “kalau saja”. Wacana adalah ide di awang-awang dimana setiap orang dengan mudah melontarkannya namun biasanya sulit dilaksanakan walaupun yang melaksanakan adalah “penemu” wacana awal.


Embel-embel untuk mensejahterakan Rakyat Wonosobo menjadi salah satu pelengkap karya ini untuk mengunggah hal-hal klasik dalam jargon-jargon disetiap suasana pembahasan orang-orang berwacana. Agar seperti terlihat intelek dan pro rakyat Dari semua skeptisme, harapan kecil adalah karya wacana ini dapat dipakai oleh orang-orang yang sederhana dan mau bekerja untuk rakyat (kalau masih ada) dengan demikian kaisan pahala ilmu dapat diraih penulis walau satu dua tetes.
Silakan down load di link ini : WACANA DI AWANG-AWANG

Read More......

LEGENDA WONOSOBO (Free E. Book)

Wonosobo bagaikan sebuah wilayah yang miskin akan data sejarah. Sebegitu banyak peninggalan bersejarah yang terserak namun tlatah ini seperti amnesia dengan siapa dirinya. Kumpulan legenda ini dibuat untuk membangkitkan kebali memori Wonosobo sebagai daerah yang mempunyai
sejarah panjang. Jauh lebih tua dari klaim umurnya .
Dengan adanya banyak legenda yang mulai terkuak maka diharapkan tumbuh semangat dari para putra daerahnya untuk mulai lebih menguri-uri sejarah dan budayanya. Kumpulan legenda ini merupakan kumpulan tulisan dari Lis Retno Wibowo Jawa Pos Radar Semarang yang telah pernah di “publish” di Jawa Pos (2006-2008). Ditambah tulisan dari Dwi Putranto Bimo Sasongko yang telah di up load di www.jatiningjati.com. Berharap semoga bermanfaat dunia akherat sebagai sedekah ilmu dari kami.
Klik Link ini untu down load bukunya : Legenda Wonosobo

Read More......

Sabtu, 19 Oktober 2013

Free E Book "Mr. Moch Dalijono : Pejuang Demokrasi Yang Terlupa"

Menyusun biografi seorang tokoh tidak lepas dari sebuah konsep fakta sejarah hidupnya dan subyektifitas dari sang penyusunnya. Pada penulisan biografi Mr. Moch. Dalijono : Pejuang Demokrasi Yang Terlupa, penyusun berusaha meminimalkan subyektifitas dan mengetengahkan fakta dari banyak sumber.

Memang diakui sangat sulit membuat biografi tokoh salah seorang pembangun pondasi bangsa ini dikarenakan sedikitnya literatur sejarah yang diketemukan. Mr. Moch. Dalijono adalah salah satu tokoh Masyumi.Menyitir pendapata Mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Izha Mahendra yang menyiratkan adanya diskriminasi dan tekanan politik pada era Orde Baru pada tokoh-tokoh nasional dari Masyumi sehingga banyak catatan sejarah di era tersebut menjadi sangat minim. Namun setidaknya sejimpit fakta yang diketemukan dan ditulis dalam buku ini dapat memberikan gambaran riil perang penting Mr. Moch Dalijono dalam percaturan politik era kemerdekaan dan era orde baru.
Silakan down load bukunya di link ini gratis :
BUKU Mr. MOCH. DALIJONO : PEJUANG DEMOKRASI YANG TERLUPA

Read More......

Jatiningjati : Different Taste and More Idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO